LUWU – Puluhan hektare tanaman padi di Desa Tombang, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mengalami gagal panen atau puso akibat kekeringan yang berlangsung sejak Maret 2026.
Kondisi tersebut membuat lahan
persawahan mengering dan retak. Tanaman padi yang rata-rata telah berusia
sekitar 60 hari, yang seharusnya mulai memasuki fase pembentukan bulir, justru
sebagian besar mengering dan mati.
Petani telah berupaya menyelamatkan
tanaman dengan memompa air dari sungai ke areal persawahan. Namun, upaya
tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan air karena keterbatasan pompa dan
sistem pembagian air irigasi yang dilakukan secara bergiliran.
Salah seorang petani di Desa
Tombang, Ilham (55), mengatakan kekeringan telah berlangsung sejak Maret lalu.
"Sudah mulai dari bulan Maret.
Kalau umur padi ini sudah 60 hari," kata Ilham saat ditemui di area
persawahan Desa Tombang, Kamis (27/8/2026).
Menurut Ilham, pada kondisi normal
kebutuhan air sawah dipenuhi dari saluran irigasi. Namun, saat musim kemarau,
petani harus menambah pasokan air dengan memompa air dari sungai.
Persoalannya, debit air yang
tersedia tidak mencukupi untuk mengairi seluruh areal persawahan.
Selain keterbatasan pompa, petani
juga harus mengikuti sistem pembagian air secara bergiliran.
"Kami bergiliran.
Kami kena giliran di sini 10 hari, baru kena giliran lagi. Kalau
sampai 10 hari, tanaman padi sudah tidak bisa," ucapnya.
Akibat kondisi tersebut, sebagian
tanaman padi milik petani dipastikan gagal panen.
Ilham memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp10 juta untuk setiap hektare lahan yang digarap.
Ia mengatakan lahan tersebut
merupakan sawah sewaan dengan biaya Rp5 juta untuk satu kali musim tanam.
Selain itu, petani harus mengeluarkan biaya untuk traktor sekitar Rp1,8 juta,
biaya tanam Rp1,7 juta, serta pembelian pupuk sekitar Rp1,5 juta.
"Kurang lebih Rp10 jutaan dalam
satu hektare," ujarnya.
Petani berharap pemerintah dapat
membantu mengurangi beban akibat gagal panen, terutama dengan menyediakan
sumber air alternatif.
Menurut Ilham, salah satu solusi
yang paling dibutuhkan adalah pembangunan sumur bor. Ia menyebut, berdasarkan
informasi yang diterima petani, sumber air tanah di wilayah tersebut baru bisa
diperoleh pada kedalaman sekitar 60 hingga 70 meter.
"Harapannya pemerintah bisa
mengurangi beban kami sebagai petani. Di sini kami butuh sumur bor, yang digali
dengan mesin, karena kedalamannya sekitar 60 sampai 70 meter baru dapat
air," tuturnya.
55 hektare lebih terdampak
Camat Walenrang, Ikram, mengatakan
luas areal persawahan di Kecamatan Walenrang mencapai sekitar 2.000 hektare.
Berdasarkan pendataan sementara,
sedikitnya 55,7 hektare lahan telah terdampak kekeringan dan berada dalam
kondisi yang mendekati gagal panen.
"Yang terdampak berdasarkan
informasi yang kami dapatkan di lapangan, dari Desa Tombang sekitar 15 hektare,
Kelurahan Bulo 14 hektare, Batusitanduk 6,5 hektare,
Lalong 2 hektare, Saragi 3 hektare, Walenrang 10,5 hektare,
Kalibamamase 2,7 hektare, dan Barammamase 2 hektare," kata Ikram.
Namun, angka tersebut merupakan data
sekitar satu pekan sebelumnya dan diperkirakan terus bertambah seiring belum
datangnya hujan.
Menurut Ikram, sejumlah petani
bahkan memperkirakan luasan sawah yang mengalami gagal panen dapat mencapai
ratusan hektare jika dalam 10 hari ke depan tidak turun hujan.
"Kalau 10 hari ke depan tidak
ada hujan, Walenrang bisa terdampak sampai ratusan hektare yang akan gagal
panen pada musim tanam ini," ujarnya.
Empat
pompa dikerahkan
Pemerintah Kecamatan Walenrang
bersama Pemerintah Kabupaten Luwu dan pihak terkait telah melakukan sejumlah
upaya untuk menyelamatkan tanaman padi yang masih memiliki potensi bertahan.
Salah satunya dengan mengerahkan
empat unit pompa air. Dua unit ditempatkan di Desa Tombang dan dua unit lainnya
di Desa Bulo.
Pompa tersebut digunakan untuk
mengangkat air dari sungai-sungai di sekitar persawahan menuju saluran irigasi.
Selanjutnya, air dibagikan kepada petani menggunakan sistem bergiliran.
"Alhamdulillah, khusus
Kecamatan Walenrang sudah ada empat unit pompa yang dimasukkan, di Tombang dua
dan di Bulo dua," jelas Ikram.
Meski demikian, jumlah tersebut
dinilai belum ideal. Ikram mengatakan Kecamatan Walenrang masih membutuhkan
sedikitnya 10 unit pompa untuk membantu mengairi sawah yang terdampak
kekeringan.
"Khusus di Walenrang, kalau 10
unit kami pasti butuh 10 unit. Di Tombang bisa membutuhkan dua sampai tiga unit
karena masih ada sumber air yang bisa dipompa," terangnya.
Selain pompa, pemerintah juga mulai
mempertimbangkan pembangunan sumur bor sebagai solusi jangka panjang, terutama
untuk wilayah persawahan yang tidak terjangkau jaringan irigasi ketika musim
kemarau.
Ikram mengatakan pihaknya akan
berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Pemerintah Kabupaten Luwu untuk
mengusulkan pembangunan sumur bor di sejumlah titik.
"Sumur bor sangat diharapkan ke
depan, khususnya di titik-titik yang memang tidak terjangkau aliran air ketika
musim kemarau," ujarnya.
Kekeringan yang berlangsung
berbulan-bulan ini menjadi ancaman serius bagi petani di Walenrang. Jika hujan
tak kunjung turun dan pasokan air terus menurun, luasan sawah yang mengalami
gagal panen diperkirakan masih akan bertambah.

No comments:
Post a Comment