Notification

×

Iklan

INSPIRASI TIMUR INDONESIA

Iklan

Indeks Berita

Puluhan Hektare Sawah Mengering, Petani Walenrang Luwu Rugi Jutaan Rupiah

Thursday, 27 August 2026 | August 27, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-27T15:56:15Z

LUWU – Puluhan hektare tanaman padi di Desa Tombang, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mengalami gagal panen atau puso akibat kekeringan yang berlangsung sejak Maret 2026.


Kondisi tersebut membuat lahan persawahan mengering dan retak. Tanaman padi yang rata-rata telah berusia sekitar 60 hari, yang seharusnya mulai memasuki fase pembentukan bulir, justru sebagian besar mengering dan mati.


Petani telah berupaya menyelamatkan tanaman dengan memompa air dari sungai ke areal persawahan. Namun, upaya tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan air karena keterbatasan pompa dan sistem pembagian air irigasi yang dilakukan secara bergiliran.


Salah seorang petani di Desa Tombang, Ilham (55), mengatakan kekeringan telah berlangsung sejak Maret lalu.


"Sudah mulai dari bulan Maret. Kalau umur padi ini sudah 60 hari," kata Ilham saat ditemui di area persawahan Desa Tombang, Kamis (27/8/2026).


Menurut Ilham, pada kondisi normal kebutuhan air sawah dipenuhi dari saluran irigasi. Namun, saat musim kemarau, petani harus menambah pasokan air dengan memompa air dari sungai.


Persoalannya, debit air yang tersedia tidak mencukupi untuk mengairi seluruh areal persawahan.


Selain keterbatasan pompa, petani juga harus mengikuti sistem pembagian air secara bergiliran.


"Kami bergiliran. Kami kena giliran di sini 10 hari, baru kena giliran lagi. Kalau sampai 10 hari, tanaman padi sudah tidak bisa," ucapnya.


Akibat kondisi tersebut, sebagian tanaman padi milik petani dipastikan gagal panen.

Ilham memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp10 juta untuk setiap hektare lahan yang digarap.


Ia mengatakan lahan tersebut merupakan sawah sewaan dengan biaya Rp5 juta untuk satu kali musim tanam. Selain itu, petani harus mengeluarkan biaya untuk traktor sekitar Rp1,8 juta, biaya tanam Rp1,7 juta, serta pembelian pupuk sekitar Rp1,5 juta.


"Kurang lebih Rp10 jutaan dalam satu hektare," ujarnya.


Petani berharap pemerintah dapat membantu mengurangi beban akibat gagal panen, terutama dengan menyediakan sumber air alternatif.


Menurut Ilham, salah satu solusi yang paling dibutuhkan adalah pembangunan sumur bor. Ia menyebut, berdasarkan informasi yang diterima petani, sumber air tanah di wilayah tersebut baru bisa diperoleh pada kedalaman sekitar 60 hingga 70 meter.


"Harapannya pemerintah bisa mengurangi beban kami sebagai petani. Di sini kami butuh sumur bor, yang digali dengan mesin, karena kedalamannya sekitar 60 sampai 70 meter baru dapat air," tuturnya.


55 hektare lebih terdampak

Camat Walenrang, Ikram, mengatakan luas areal persawahan di Kecamatan Walenrang mencapai sekitar 2.000 hektare.


Berdasarkan pendataan sementara, sedikitnya 55,7 hektare lahan telah terdampak kekeringan dan berada dalam kondisi yang mendekati gagal panen.


"Yang terdampak berdasarkan informasi yang kami dapatkan di lapangan, dari Desa Tombang sekitar 15 hektare, Kelurahan Bulo 14 hektare, Batusitanduk 6,5 hektare, Lalong 2 hektare, Saragi 3 hektare, Walenrang 10,5 hektare, Kalibamamase 2,7 hektare, dan Barammamase 2 hektare," kata Ikram.


Namun, angka tersebut merupakan data sekitar satu pekan sebelumnya dan diperkirakan terus bertambah seiring belum datangnya hujan.


Menurut Ikram, sejumlah petani bahkan memperkirakan luasan sawah yang mengalami gagal panen dapat mencapai ratusan hektare jika dalam 10 hari ke depan tidak turun hujan.


"Kalau 10 hari ke depan tidak ada hujan, Walenrang bisa terdampak sampai ratusan hektare yang akan gagal panen pada musim tanam ini," ujarnya.

 

Empat pompa dikerahkan

Pemerintah Kecamatan Walenrang bersama Pemerintah Kabupaten Luwu dan pihak terkait telah melakukan sejumlah upaya untuk menyelamatkan tanaman padi yang masih memiliki potensi bertahan.


Salah satunya dengan mengerahkan empat unit pompa air. Dua unit ditempatkan di Desa Tombang dan dua unit lainnya di Desa Bulo.


Pompa tersebut digunakan untuk mengangkat air dari sungai-sungai di sekitar persawahan menuju saluran irigasi. Selanjutnya, air dibagikan kepada petani menggunakan sistem bergiliran.

 

"Alhamdulillah, khusus Kecamatan Walenrang sudah ada empat unit pompa yang dimasukkan, di Tombang dua dan di Bulo dua," jelas Ikram.


Meski demikian, jumlah tersebut dinilai belum ideal. Ikram mengatakan Kecamatan Walenrang masih membutuhkan sedikitnya 10 unit pompa untuk membantu mengairi sawah yang terdampak kekeringan.


"Khusus di Walenrang, kalau 10 unit kami pasti butuh 10 unit. Di Tombang bisa membutuhkan dua sampai tiga unit karena masih ada sumber air yang bisa dipompa," terangnya.


Selain pompa, pemerintah juga mulai mempertimbangkan pembangunan sumur bor sebagai solusi jangka panjang, terutama untuk wilayah persawahan yang tidak terjangkau jaringan irigasi ketika musim kemarau.


Ikram mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Pemerintah Kabupaten Luwu untuk mengusulkan pembangunan sumur bor di sejumlah titik.


"Sumur bor sangat diharapkan ke depan, khususnya di titik-titik yang memang tidak terjangkau aliran air ketika musim kemarau," ujarnya.


Kekeringan yang berlangsung berbulan-bulan ini menjadi ancaman serius bagi petani di Walenrang. Jika hujan tak kunjung turun dan pasokan air terus menurun, luasan sawah yang mengalami gagal panen diperkirakan masih akan bertambah.

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update