Notification

×

Iklan

INSPIRASI TIMUR INDONESIA

Iklan

Indeks Berita

Musim Kemarau, Serangan Hama Ancam Tanaman Padi di Walenrang Luwu

Monday, 31 August 2026 | August 31, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-31T06:17:26Z

LUWU – Puluhan hektare tanaman padi di Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, terancam gagal panen atau puso akibat kekeringan yang melanda wilayah tersebut.

Ancaman gagal panen semakin besar karena tanaman padi juga mulai diserang sejumlah organisme pengganggu tanaman, termasuk wereng batang coklat dan walang sangit.


Camat Walenrang, Ikram, mengatakan luas areal persawahan di wilayahnya mencapai sekitar 2.000 hektare.


Berdasarkan pendataan sementara, sedikitnya 55,7 hektare sawah telah terdampak kekeringan dan berada dalam kondisi mendekati gagal panen.


"Yang terdampak berdasarkan informasi yang kami dapatkan di lapangan, dari Desa Tombang sekitar 15 hektare, Kelurahan Bulo 14 hektare, Batusitanduk 6,5 hektare, Lalong 2 hektare, Saragi 3 hektare, Walenrang 10,5 hektare, Kalibamamase 2,7 hektare, dan Barammamase 2 hektare," kata Ikram, Senin (31/8/2026).


Menurut Ikram, angka tersebut merupakan data sekitar satu pekan sebelumnya. Luasan lahan terdampak diperkirakan masih dapat bertambah apabila hujan belum turun dalam waktu dekat.


Bahkan, petani memperkirakan luas sawah yang berpotensi mengalami gagal panen dapat mencapai ratusan hektare jika kondisi kekeringan terus berlangsung.


"Kalau 10 hari ke depan tidak ada hujan, Walenrang bisa terdampak sampai ratusan hektare yang akan gagal panen pada musim tanam ini," ujarnya.


Hama Ikut Mengancam Tanaman Padi


Kekeringan bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi petani. Serangan hama juga mulai mengancam tanaman padi di sejumlah wilayah.


Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Sulawesi Selatan, Yusri, mengatakan petani perlu meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau.


Beberapa hama yang perlu diantisipasi antara lain tikus sawah, penggerek batang padi, wereng batang coklat, dan ulat grayak.


Selain itu, sejumlah penyakit tanaman juga berpotensi menyerang, seperti hawar bakteri atau keresek, penyakit blas, busuk pelepah, dan hawar pelepah.


Berdasarkan pemantauan di lapangan, populasi walang sangit juga mulai ditemukan.


"Sudah terpantau populasi walang sangit. Itu bisa merusak tanaman padi, khususnya pada fase matang susu," kata Yusri.


Yusri juga mengingatkan petani untuk mewaspadai wereng batang coklat. Hama tersebut dinilai dapat menyebabkan kerusakan serius apabila tidak segera dikendalikan.


"Kalau terus berlangsung, dampaknya bisa terjadi puso jika tidak ada pengendalian. Terutama sekarang, berdasarkan pemantauan kami sudah banyak yang terserang wereng batang coklat," ujarnya.


Empat Pompa Dikerahkan


Untuk menyelamatkan tanaman padi yang masih memiliki peluang bertahan, pemerintah telah mengerahkan empat unit pompa air.


Dua unit pompa ditempatkan di Desa Tombang dan dua unit lainnya di Desa Bulo.


Pompa digunakan untuk mengangkat air dari sungai di sekitar persawahan menuju saluran irigasi. Air kemudian dibagikan kepada petani dengan sistem bergiliran.


"Alhamdulillah, khusus Kecamatan Walenrang sudah ada empat unit pompa yang dimasukkan, di Tombang dua dan di Bulo dua," jelas Ikram.


Namun, jumlah pompa tersebut dinilai masih belum mencukupi.


Pemerintah Kecamatan Walenrang masih membutuhkan sedikitnya 10 unit pompa untuk membantu mengairi sawah yang terdampak kekeringan.


"Khusus di Walenrang, kami pasti butuh 10 unit. Di Tombang bisa membutuhkan dua sampai tiga unit karena masih ada sumber air yang bisa dipompa," katanya.


Diusulkan Pembangunan Sumur Bor


Selain mengandalkan pompa air, pemerintah juga mulai mempertimbangkan pembangunan sumur bor sebagai solusi jangka panjang.


Sumur bor dinilai penting untuk membantu persawahan yang tidak terjangkau jaringan irigasi, terutama ketika musim kemarau.


Ikram mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Pemerintah Kabupaten Luwu untuk mengusulkan pembangunan sumur bor di sejumlah titik.


"Sumur bor sangat diharapkan ke depan, khususnya di titik-titik yang memang tidak terjangkau aliran air ketika musim kemarau," tuturnya.


Sementara itu, Yusri mengingatkan petani agar tidak langsung menggunakan insektisida tanpa terlebih dahulu memantau tingkat populasi hama.


Untuk wereng batang coklat, pengendalian dilakukan berdasarkan tingkat populasi dan ambang kendali.


Jika serangan masih berada di bawah ambang kendali, petani dapat menggunakan bahan pengendali alami. Namun, jika populasi hama sudah melewati ambang kendali, pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida sesuai rekomendasi.


Dengan kondisi kekeringan yang masih berlangsung, pemerintah dan petani kini berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan tanaman padi sebelum kerusakan meluas dan menyebabkan gagal panen.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update