Sungai Rongkong Meluap, Banjir Terparah Rendam Luwu Utara, Tanggul Jebol Perparah Kondisi

LUWU UTARA – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, sejak Kamis (11/6/2026) malam memicu meluapnya Sungai Rongkong dan merendam sejumlah wilayah permukiman warga.



Kondisi tersebut diperparah dengan jebolnya tanggul di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Baebunta Selatan. Akibatnya, aliran air tak terbendung dan meluas hingga ke Desa Lembang-Lembang, yang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah.


Kepala Desa Lembang-Lembang, Arwis Ansar, mengatakan air kembali masuk ke permukiman warga pada Jumat (12/6/2026) dini hari setelah debit Sungai Rongkong terus meningkat.


“Situasi hari ini air sangat deras dan kembali meluap ke permukiman warga. Ini akibat jebolnya tanggul di Desa Beringin Jaya yang sampai saat ini belum tertangani,” kata Arwis saat dikonfirmasi, Jumat.


Menurut dia, jebolnya tanggul tersebut menjadi titik kritis yang membuat aliran air mengalir tanpa hambatan ke kawasan permukiman warga. Kondisi itu menyebabkan banjir semakin meluas dan merendam hampir seluruh wilayah Desa Lembang-Lembang.


“Kondisi itu menyebabkan banjir semakin meluas dan merendam hampir seluruh wilayah Desa Lembang-Lembang,” ujarnya.


Arwis menyebut banjir kali ini merupakan yang paling besar sepanjang tahun 2026 di wilayah tersebut. Ia mengaku warga berharap ada penanganan cepat dari pemerintah agar kejadian serupa tidak terus berulang.


“Di tahun 2026 ini, ini banjir paling besar dan paling tinggi. Kami berharap pemerintah kecamatan, kabupaten, hingga provinsi serta balai besar wilayah sungai bisa segera mengambil langkah untuk mengatasi penyebab utama meluapnya air ke permukiman,” tuturnya.


Ia juga meminta Balai Wilayah Sungai (BWS) segera melakukan langkah darurat untuk mempercepat penanganan tanggul yang jebol di Desa Beringin Jaya.


Menurut Arwis, seluruh permukiman di Desa Lembang-Lembang saat ini terdampak banjir. Ketinggian air bahkan telah mencapai rumah panggung warga hingga menutupi beberapa anak tangga.


“Semua permukiman terendam. Rumah panggung tinggal sedikit lagi tersentuh air. Kami berharap air segera surut agar masyarakat bisa kembali beraktivitas,” ujarnya.


Selain merendam permukiman, banjir juga melumpuhkan akses transportasi darat di wilayah tersebut. Warga terpaksa menggunakan perahu untuk beraktivitas dan menjangkau lokasi lain yang masih dapat diakses.


“Tidak ada lagi akses jalan yang bisa dilalui kendaraan motor maupun mobil. Semua harus menggunakan perahu,” kata dia.


Hingga Jumat siang, warga masih bertahan di rumah masing-masing sambil menunggu surutnya banjir. Sementara itu, upaya penanganan darurat di titik tanggul yang jebol belum sepenuhnya dilakukan, sehingga kondisi genangan masih berpotensi meluas jika hujan kembali turun. 

Previous Post Next Post