Sirajuddin Korban ABK di Selat Hormuz, Pelaut Asal Luwu yang Masih Dicari Pasca Insiden Kapal Musaffah II

LUWU – Kabar insiden yang menimpa kapal Musaffah II di perairan Selat Hormuz, Timur Tengah, masih menyisakan kecemasan bagi keluarga para kru. Salah satu awak kapal yang hingga kini belum diketahui secara pasti kondisinya adalah Sirajuddin (45), Chief Engineer kapal milik perusahaan Abu Dhabi Ports tersebut.


Di kampung halamannya di Desa Temboe, Kecamatan Larompong Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, keluarga besar Sirajuddin masih menunggu kabar resmi mengenai nasibnya.


Adik kandung Sirajuddin, Arif Juntara (40), menggambarkan kakaknya sebagai sosok yang sederhana, penyabar, dan dikenal dermawan di lingkungan tempat tinggalnya.


“Orangnya baik, penyabar, dan dermawan. Di kampung juga dikenal ramah,” kata Arif saat ditemui di rumah istri Sirajuddin, Minggu (15/3/2026).


Arif merupakan anak bungsu dari sepuluh bersaudara. Sirajuddin sendiri adalah anak kesembilan di keluarga tersebut. Dari sepuluh bersaudara itu, enam orang berjenis kelamin laki-laki dan empat perempuan.


Menariknya, lima dari enam saudara laki-laki memilih berkarier di dunia pelayaran, termasuk Sirajuddin.


“Dari sepuluh bersaudara, lima orang bekerja di pelayaran. Empat perempuan, satu laki-laki yang tidak di pelayaran. Saya yang paling bungsu,” ucap Arif.


Menurut Arif, kakaknya memang sudah bercita-cita menjadi pelaut sejak muda. Hal itu terlihat dari pilihannya melanjutkan pendidikan di Sekolah Pelayaran SPM Bahari Parepare.


“Memang cita-citanya jadi pelaut karena dia sekolah di SPM Bahari Parepare. Dia termasuk angkatan pertama atau kedua kalau saya tidak salah, disana,” ujarnya.


Karier Sirajuddin di dunia pelayaran dimulai sejak awal tahun 2000-an. Sejak saat itu, ia beberapa kali bekerja di berbagai kapal hingga akhirnya bergabung dengan kapal Musaffah II.


Arif memperkirakan kakaknya sudah sekitar lima hingga enam tahun bekerja di kapal tersebut sebagai Chief Engineer.


“Sudah sekitar lima atau enam tahun di Musaffah II,” tuturnya.


Meski bekerja jauh dari keluarga, Sirajuddin dikenal tetap menjaga hubungan dengan keluarga di kampung halaman. Namun, komunikasi antara Arif dan kakaknya tidak terlalu sering karena kesibukan masing-masing.


“Kami jarang komunikasi. Paling cuma saling tanya kabar saja. Kadang kalau ada hari besar atau acara keluarga baru saling telepon,” imbuhnya.


Arif memperkirakan komunikasi terakhir dengan kakaknya terjadi sekitar sebulan lalu, sebelum memasuki bulan Ramadhan.


“Terakhir mungkin sekitar bulan lalu, sebelum puasa. Cuma tanya kabar saja,” terangnya.


Menurut Arif, selama bekerja di luar negeri, Sirajuddin lebih sering berkomunikasi dengan istri dan anak-anaknya.


“Dia lebih banyak komunikasi dengan istri dan anak-anaknya,” jelas Arif.


Bagi Arif, kabar mengenai insiden kapal Musaffah II pertama kali diterima keluarga dari pihak perusahaan tempat Sirajuddin bekerja. Arif mengatakan pihak kantor langsung menghubunginya dan memberitahukan bahwa kapal tersebut mengalami insiden di Selat Hormuz.


“Hari itu saya dihubungi langsung oleh pihak kantor tempat kapal kakak saya bekerja. Mereka menyampaikan bahwa Musaffah II mengalami insiden di Selat Hormuz,” ungkapnya.


Setelah menerima informasi tersebut, keluarga kemudian menyebarkannya kepada anggota keluarga lainnya.


“Informasi itu langsung kami sampaikan ke keluarga yang lain,” kata Arif.


Namun hingga kini, informasi resmi mengenai kondisi kapal maupun para kru masih sangat terbatas. Menurut Arif, komunikasi dengan pihak perusahaan juga tidak berlangsung intens karena respons yang cukup lambat.


“Kami beberapa kali komunikasi, tapi responsnya juga agak lambat. Mungkin mereka juga sedang sibuk,” ujarnya.


Pihak perusahaan, kata Arif, menyampaikan bahwa proses pencarian masih berlangsung dan belum ada informasi terbaru dari otoritas setempat.


“Jawaban terakhir dari kantor, masih dilakukan pencarian dan belum ada informasi dari otoritas di sana,” kata Arif.


Selain dari perusahaan, keluarga juga sempat dihubungi oleh pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Informasi yang diterima keluarga tidak jauh berbeda, yakni bahwa proses pencarian terhadap korban masih terus dilakukan.


“Beberapa hari lalu pihak KBRI juga menghubungi saya. Mereka mengatakan kakak saya masih dalam proses pencarian,” ujar Arif.


Sambil menunggu kepastian, keluarga memilih terus menjalin komunikasi dengan rekan-rekan pelaut yang bekerja di perusahaan yang sama dengan Sirajuddin.


“Kami juga komunikasi dengan teman-temannya yang satu perusahaan di sana. Mereka biasanya memberi kabar kalau ada informasi terbaru,” kata Arif.


Di kampung halaman, kabar insiden tersebut juga menarik perhatian warga sekitar. Sejak informasi itu tersebar, rumah keluarga Sirajuddin kerap didatangi tetangga dan aparat desa yang ingin memberikan dukungan.


“Banyak tetangga datang, kepala desa juga datang, aparat desa juga,” ujarnya.


Bagi warga Desa Temboe, Sirajuddin dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul. Saat pulang kampung, ia kerap berbaur dengan masyarakat, termasuk bermain sepak bola bersama anak-anak muda di lapangan desa.


“Dia biasanya main bola di lapangan desa sama anak-anak muda. Memang hobinya olahraga,” kata Arif.


Tak hanya itu, Sirajuddin juga dikenal sering membantu kegiatan masyarakat. Saat pulang dari bekerja di luar negeri, ia kerap memberikan sumbangan untuk berbagai kegiatan di desa, termasuk untuk masjid.


“Kalau pulang biasanya membantu kegiatan di kampung. Kadang menyumbang untuk acara warga atau untuk masjid,” ujar Arif.


Dalam pekerjaannya sebagai pelaut, Sirajuddin menjalani sistem kontrak. Biasanya ia bekerja sekitar tiga bulan di kapal sebelum kembali ke rumah.


“Kontraknya biasa tiga bulan kerja, lalu pulang sekitar satu bulan atau 45 hari, setelah itu berangkat lagi,” kata Arif.


Saat ini, keluarga berharap proses pencarian terhadap Sirajuddin dapat terus dilakukan hingga ada kejelasan mengenai kondisinya.


“Kami keluarga berharap yang utama itu pencarian dulu. Yang penting ada informasi jelas tentang bagaimana keadaannya,” kata Arif.


Ia juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan dukungan dan doa bagi kakaknya.


“Kami sangat berterima kasih kepada semua tetangga dan keluarga yang sudah mendoakan kakak saya,” ujarnya.


Sebelumnya diberitakan, keluarga Sirajuddin, awak kapal tugboat Musaffah II asal Desa Temboe, Kecamatan Larompong Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, masih menunggu kepastian kabar setelah ia dikabarkan hilang setelah kapalnya diserang saat menjalani pelayaran di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah. 


Kabar tersebut membuat keluarga di kampung halaman diliputi kecemasan. Sejak informasi itu beredar, rumah keluarga Sirajuddin didatangi kerabat dan tetangga yang datang memberikan dukungan. 


Sirajuddin diketahui bekerja sebagai kepala mesin (chief engineer) di tugboat Musaffah II yang dioperasikan oleh perusahaan pelayaran di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.


Komunikasi terakhir sebelum berlayar 

Istri Sirajuddin, Sri Dewi Aisyah, mengatakan komunikasi terakhir dengan suaminya terjadi pada Kamis pekan lalu.


Saat itu, Sirajuddin sempat memberi kabar bahwa ia akan berlayar di kawasan Selat Hormuz dan kemungkinan sulit dihubungi karena keterbatasan sinyal.


Sebelum berangkat, Sirajuddin juga sempat melakukan panggilan video dengan anak bungsunya. “Dia video call sama anak yang kecil. Dia bilang kalau mama salat, ikut salat juga ya, nak,” ujarnya.


Previous Post Next Post