LUWU - Keluarga Chief Engineering Sirajuddin, awak kapal tugboat Musaffah II asal Desa Temboe, Kecamatan Larompong Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, masih menunggu kepastian kabar mengenai keberadaannya setelah dikabarkan hilang saat menjalani pelayaran internasional di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah.
Kabar tersebut membuat
keluarga di kampung halaman diliputi kecemasan. Sejak informasi itu beredar,
rumah keluarga Sirajuddin di Desa Temboe didatangi kerabat dan tetangga yang
datang memberikan dukungan moril.
Sirajuddin diketahui bekerja
sebagai kepala mesin (Chief Engineering) di tughboat Musaffah II yang dioperasikan
perusahaan pelayaran yang beroperasi di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Hingga
kini, keluarga masih menanti perkembangan informasi dari pihak perusahaan
maupun perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri.
Istri Sirajuddin, Sri Dewi
Aisyah, mengatakan komunikasi terakhir dengan suaminya terjadi pada Kamis pekan
lalu. Saat itu, Sirajuddin sempat memberi kabar bahwa ia akan berlayar di
kawasan Selat Hormuz sehingga kemungkinan tidak bisa berkomunikasi karena
keterbatasan sinyal.
“Dia cuma bilang mau
perjalanan. Katanya mau narik kapal di Selat Hormuz. Dia juga bilang mungkin
tidak ada sinyal,” kata Sri Dewi saat ditemui di rumahnya, Senin (9/3/2026)
sore.
Menurut Sri Dewi, sebelum
berangkat, suaminya juga sempat melakukan panggilan video dengan anak
bungsunya. Dalam percakapan itu, Sirajuddin berpesan agar sang anak selalu
mengikuti ibunya beribadah.
“Dia videocall sama anak yang
kecil. Dia bilang kalau mama salat, ikut salat juga ya nak,” ucapnya.
Sri Dewi mengungkapkan,
suaminya merupakan sosok yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarga. Ia
menyebut Sirajuddin selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi istri dan
kedua anaknya, Nazwa Azalia dan Azkaira Nur Malaika.
“Suami saya orang yang sangat
bertanggung jawab, sayang sekali sama keluarga dan anak-anak. Dia selalu
support kami, selalu berusaha memberi yang terbaik,” ujarnya.
Menurut Sri Dewi, Sirajuddin
telah lama bekerja di dunia pelayaran, bahkan sejak sebelum mereka memiliki
anak. Profesi tersebut dijalani untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus
mewujudkan cita-cita masa depan anak-anaknya.
Ia bercerita, suaminya
memiliki harapan besar agar anak-anak mereka kelak bisa menempuh pendidikan
hingga ke luar negeri.
“Dia ingin anak-anak bisa
kuliah di luar negeri, seperti di Qatar atau Dubai. Makanya dia selalu bilang
anak-anak harus belajar bahasa Inggris dan bahasa Arab,” tutur Sri Dewi.
Sirajuddin terakhir kali
pulang ke kampung halaman pada Agustus 2025 sebelum kembali berangkat bekerja.
Saat berada di rumah, ia tidak pernah lama tinggal karena harus kembali
bertugas di kapal.
Informasi mengenai musibah
yang menimpa kapal tempat Sirajuddin bekerja pertama kali diterima keluarga
pada Jumat pagi. Saat itu, seorang teman sekolah dasar Sirajuddin datang ke
rumah untuk menyampaikan kabar tersebut.
“Teman SD-nya datang ke
rumah. Dia bilang sabar ya, ibu, suami ta ada musibah,” imbuhnya.
Sejak saat itu, keluarga
terus menunggu kabar resmi mengenai kondisi Sirajuddin. Sri Dewi mengatakan
pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sempat menyampaikan bahwa proses
pencarian masih terus dilakukan.ia berharap suaminya dapat ditemukan dalam
keadaan selamat.
“Harapan saya semoga suami
saya selamat dan cepat ditemukan dalam keadaan baik-baik saja. Sebelum ada
kepastian, saya berharap pencarian terus dilakukan,” terangnya.
Selain itu, Sri Dewi juga
berharap perusahaan tempat suaminya bekerja dapat menunjukkan tanggung jawab
terhadap para awak kapal yang mengalami musibah tersebut.
“Saya ingin perusahaan
bertanggung jawab,” harapnya.
Di tengah kecemasan yang dirasakan keluarga, Sri Dewi masih memegang harapan agar Sirajuddin dapat kembali pulang dengan selamat ke kampung halaman dan berkumpul kembali bersama keluarga.
