Pesan Anak yang Bertugas di Polda Sulsel Tenangkan Istri Kapten Miswar Usai Insiden Kapal Musaffah 2

LUWU– Kabar mengenai insiden kapal tughboat Musaffah 2 di perairan Selat Hormuz, Timur Tengah masih menyisakan kecemasan bagi keluarga para awak kapal di kampung halaman. Salah satu keluarga yang hingga kini masih menunggu kepastian kabar adalah keluarga Kapten Miswar Paturusi (50), pelaut asal Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.


Di tengah situasi penuh ketidakpastian tersebut, keluarga berusaha menahan rasa khawatir sambil menunggu informasi resmi dari pihak perusahaan maupun pemerintah terkait kondisi para awak kapal yang berada di kapal tersebut.


Istri Kapten Miswar, Marliani Ahmad (47), mengatakan bahwa dirinya dan keluarganya sempat mengalami syok setelah kabar insiden kapal tughboat Musaffah 2 beredar luas. Berbagai informasi yang beredar di media sosial maupun pesan berantai membuat keluarga semakin cemas karena banyak kabar yang belum dapat dipastikan kebenarannya.


Menurut Marliani, di tengah situasi tersebut anak sulungnya yang bertugas sebagai anggota kepolisian di Polda Sulawesi Selatan berusaha menenangkan dirinya agar tidak terburu-buru mempercayai informasi yang belum jelas.


“Anak saya bilang, Ibu tenang dulu. Jangan dulu termakan sama informasi-informasi yang belum jelas. Tunggu informasi dari kantor perusahaan dan KBRI,” kata Marliani saat ditemui di rumahnya. Rabu (11/3/2026)/


Kapten Miswar dan Marliani diketahui telah lama membina rumah tangga dan dikaruniai dua orang anak. Anak pertama mereka, Muhammad Qiratul Miswar, kini bertugas sebagai anggota kepolisian di Polda Sulawesi Selatan. Sementara anak kedua mereka, Muhammad Hayatullah Miswar, masih duduk di bangku SMA kelas II.


Marliani mengaku awalnya merasa sangat terpukul ketika pertama kali mendengar kabar mengenai insiden kapal yang ditumpangi suaminya. Namun ia mencoba menenangkan diri setelah mendapatkan dukungan dari keluarga dan kerabat yang terus datang memberikan semangat.


Menurut Marliani, pesan dari anak sulungnya tersebut membuat dirinya berusaha menahan diri agar tidak terpancing oleh berbagai kabar yang beredar di media sosial.


“Saya berusaha dan memilih menunggu dengan sabar sambil terus berharap ada kabar baik mengenai suami dan para awak kapal lainnya,” ucapnya.


Sejak kabar insiden tersebut mencuat, sejumlah keluarga dan tetangga juga datang ke rumah untuk memberikan dukungan moral. Kehadiran mereka, kata Marliani, sedikit banyak membantu menguatkan keluarga yang sedang diliputi kecemasan.


Meski demikian, rasa khawatir tetap tidak bisa sepenuhnya dihilangkan. Setiap perkembangan informasi yang muncul selalu menjadi perhatian keluarga, dengan harapan ada kabar yang menenangkan mengenai kondisi para awak kapal.


Sebagai seorang istri, Marliani berharap ada kejelasan informasi secepatnya dari pihak perusahaan maupun pemerintah agar keluarga tidak terus diliputi ketidakpastian.


“Saya hanya berharap ada kabar yang jelas. Kami di keluarga terus berdoa semoga semuanya dalam keadaan baik,” ujarnya.


Marliani mengungkapkan, suaminya Miswar hampir selalu menyempatkan diri menghubungi keluarganya melalui pesan video, meski sedang bekerja di atas kapal yang berlayar di luar negeri.


“Bapak itu tidak suka telepon biasa, dia lebih suka video call. Hampir setiap hari dia video call sama saya dengan anak dan keluarga lainnya,” tuturnya.


Menurut Marliani, suaminya kerap menghubungi keluarga pada pagi hari, sore hari, hingga menjelang waktu tidur sekitar pukul 21.00 Wita.


“Biasanya pagi, sore, atau menjelang tidur sekitar jam sembilan malam. Kalau menelpon video dia memperlihatkan aktivitasnya selama berada di kapal. Terkadang ia menunjukkan suasana laut, ruang kerja di kapal, atau sekadar memperlihatkan dirinya yang sedang beristirahat,” jelasnya.


Tak jarang, percakapan sederhana itu berlangsung cukup lama karena Miswar juga ingin mendengar cerita dari anak-anaknya di rumah.


Marliani mengatakan, bagi keluarga, momen panggilan video itu menjadi waktu yang paling dinantikan setiap hari. Meski singkat, kebiasaan tersebut mampu mengobati rasa rindu karena Miswar sering berada jauh dari rumah dalam waktu yang lama.


Di sisi lain, Marliani tetap menjalani aktivitasnya sehari-hari seperti biasa. Ia membantu mengelola toko bangunan milik keluarga yang berada tidak jauh dari rumah mereka.


Meski sedang melayani pelanggan atau menjaga kasir, Marliani tetap berusaha menjawab panggilan video dari suaminya. Kini, kebiasaan tersebut justru menjadi kenangan yang paling membekas bagi keluarga.


“Kadang saya lagi kerja sambil jaga kasir di toko bangunan, tapi tetap video call,” ujarnya.


“Kebiasaan sederhana itu menjadi penghubung yang membuat keluarga kami tetap terasa dekat, meskipun harus menjalankan tugasnya sebagai pelaut di perairan internasional,” tambah Marliani.


Hingga kini, keluarga Kapten Miswar Paturusi masih menunggu perkembangan informasi resmi terkait insiden kapal tughboat Musaffah 2 yang terjadi di kawasan Selat Hormuz.

Previous Post Next Post