Masjid Ar-Rasyid di Tepian Sungai Labuang, Inisiatif Babinsa dan Gotong Royong Warga Menjaga Jejak Islam Luwu


LUWU - Azan berkumandang di tepian Sungai Labuang, Dusun Labuang, Desa Pabbaresseng, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Suaranya memantul di atas permukaan air yang tenang, memanggil para nelayan dan petani rumput laut yang masih beraktivitas di pesisir untuk menepi sejenak.


Beberapa warga berjalan menuju sebuah bangunan sederhana bercat hijau-kuning yang berdiri tidak jauh dari tepi sungai. Itulah Masjid Ar-Rasyid, rumah ibadah yang baru berdiri sekitar dua tahun terakhir, namun telah menjadi pusat kehidupan spiritual masyarakat setempat.


Masjid berukuran sekitar 8 x 8,5 meter itu mungkin tidak besar. Namun bagi warga Dusun Labuang, keberadaannya memiliki arti yang jauh lebih luas dari sekadar bangunan tempat salat.


Ia adalah simbol kebersamaan, gotong royong, sekaligus jawaban atas kerinduan warga yang selama bertahun-tahun menginginkan masjid di lingkungan mereka.

 

Arsitektur sederhana khas masjid Nusantara

Dari kejauhan, Masjid Ar-Rasyid tampak menonjol dengan atap berbentuk piramida bertingkat yang berpuncak kecil di bagian atasnya. Model atap seperti ini dikenal sebagai ciri arsitektur masjid tradisional Nusantara yang banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia.


Bagian depan masjid dilengkapi serambi dengan lengkungan-lengkungan sederhana yang menjadi pintu masuk menuju ruang salat utama. Dindingnya dicat dengan perpaduan warna hijau dan kuning yang memberi kesan sejuk.


Halaman depan masjid masih berupa tanah terbuka yang cukup luas. Saat salat Jumat atau kegiatan keagamaan, halaman itu kerap dipenuhi jamaah.


Meski dibangun secara swadaya, fasilitas masjid ini tergolong cukup lengkap untuk ukuran masjid desa. Di dalamnya terdapat ruang salat utama yang lapang ber AC, tempat wudhu, serta pengeras suara yang digunakan untuk azan dan kegiatan pengajian.


Letaknya yang berada di tepian Sungai Labuang membuat masjid ini mudah dijangkau oleh warga yang sebagian besar bekerja di sekitar perairan.


Bagi para nelayan, masjid ini menjadi tempat singgah ketika waktu salat tiba sebelum mereka kembali melaut.


Berawal dari silaturahmi Babinsa

Keberadaan Masjid Ar-Rasyid tidak bisa dilepaskan dari peran Babinsa Desa Pabbaresseng, Serka Ambo Upe, yang sejak awal mendorong pembangunan rumah ibadah tersebut.


Ambo Upe mengenang awal mula gagasan itu muncul ketika ia pertama kali bertugas di desa tersebut pada awal 2022.


Sebagai Babinsa yang baru ditempatkan, ia berusaha mengenal masyarakat dengan cara bersilaturahmi dari rumah ke rumah, terutama di Dusun Labuang.


“Saat saya berkunjung ke rumah warga di Dusun Labuang, mereka menyampaikan bahwa di ujung kampung ini sebenarnya sudah ada rencana pembangunan masjid. Pondasinya sudah ada, tetapi tidak pernah dilanjutkan karena terkendala dana,” kata Ambo Upe, Senin (9/3/2026).


Cerita itu membekas dalam ingatannya. Apalagi pada saat yang sama, seorang warga lanjut usia menyampaikan keluhan yang membuatnya semakin tergerak.


“Ada seorang lansia yang bilang kepada saya bahwa mereka kadang tidak bisa pergi salat berjamaah karena masjidnya jauh,” ucapnya.


Saat itu, warga Dusun Labuang memang harus menempuh perjalanan sekitar dua kilometer untuk mencapai masjid terdekat di dusun lain.


Bagi warga yang baru pulang melaut atau bagi para lansia, jarak tersebut sering menjadi kendala untuk melaksanakan salat berjamaah.

 

Tanah dihibahkan untuk masjid

Setelah mendengar keluhan warga, Ambo Upe kemudian berkoordinasi dengan Kepala Desa dan aparat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta pemilik lahan di lokasi yang direncanakan sebagai tempat pembangunan masjid.


Ia mengusulkan agar tanah tersebut dihibahkan kepada pemerintah desa sehingga nantinya masjid benar-benar menjadi milik masyarakat.


“Kami berkoordinasi dengan pemilik lahan supaya tanah ini dihibahkan untuk kepentingan masyarakat,” ujar Ambo Upe.


Setelah kesepakatan dicapai, warga kemudian membentuk panitia pembangunan masjid.


Ambo Upe juga melaporkan rencana tersebut kepada komandannya di Koramil 1403-04/Padang Sappa..


“Alhamdulillah komandan mendukung dan membantu mencarikan donasi untuk pembangunan,” tuturnya.


Menurut Ambo Upe, keterlibatannya membantu masyarakat juga merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai prajurit TNI.


“Dalam Sapta Marga dan 8 Wajib TNI, kami diajarkan untuk memelopori usaha-usaha dalam mengatasi kesulitan rakyat. Sebagai Babinsa yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, saya merasa harus membantu,” imbuhnya.

 

Semangat gotong royong warga

Pembangunan Masjid Ar-Rasyid akhirnya dimulai pada Oktober 2022. Sejak awal, masyarakat Dusun Labuang terlibat langsung dalam proses pembangunan.


Mulai dari penggalian tanah, pembuatan fondasi, hingga pengerjaan dinding dilakukan secara gotong royong.


“Sebagian besar bantuan datang dari masyarakat sendiri, baik berupa material maupun tenaga,” kata Ambo Upe.


Ia mengatakan semangat masyarakat dalam membangun masjid sangat luar biasa.


“Mereka tidak mengenal cuaca. Siang dan malam tetap bekerja disini karena sangat berharap masjid ini bisa berdiri,” ucapnya.


Seorang jamaah, Darlis, mengatakan kehadiran masjid ini memang telah lama dinantikan oleh masyarakat Dusun Labuang.


“Syukur Alhamdulillah, sejak ada masjid di sini masyarakat jadi rajin berjamaah. Dulu agak sulit karena harus ke masjid di dusun sebelah,” ujar Darlis.


Menurutnya, gagasan pembangunan masjid yang didorong oleh Babinsa langsung mendapat sambutan positif dari masyarakat.


“Memang kami butuh masjid di sini. Alhamdulillah sudah terealisasi berkat dorongan Pak Babinsa,” tuturnya.


Darlis menuturkan bahwa hampir seluruh warga ikut terlibat dalam pembangunan masjid tersebut.


“Waktu dibangun semua warga turun membantu. Tidak perlu disuruh atau ditunjuk, semuanya bekerja atas kesadaran sendiri,” terangnya.

 

Tempat ibadah sekaligus ruang musyawarah warga

Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Ar-Rasyid juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat Dusun Labuang.


Masjid ini kerap dijadikan tempat berkumpul warga untuk berdiskusi membahas berbagai persoalan kampung.


Mulai dari kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), hingga berbagai persoalan sosial lainnya sering dibicarakan secara bersama di masjid ini.


Pertemuan informal semacam itu biasanya dilakukan setelah salat berjamaah atau pada waktu-waktu tertentu ketika masyarakat berkumpul.


Keberadaan masjid sebagai ruang musyawarah ini membuatnya tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kehidupan sosial masyarakat pesisir.


Ambo Upe mengatakan masjid ini direncanakan menjadi tempat pengajian anak-anak.


“Kami ingin anak-anak disini belajar membaca Al-Qur’an menggunakan metode Iqra,” harap Ambo Upe.

 

Harapan menjadikan masjid pusat kegiatan keagamaan

Perangkat Desa Pabbaresseng, Fadli, mengatakan masjid yang diberi nama Ar-Rasyid itu berdiri di atas lahan yang dihibahkan oleh salah satu keluarga di dusun tersebut.


“Dari dulu masyarakat memang menginginkan ada masjid di sini. Kebetulan ada keluarga yang menghibahkan tanahnya,” ungkap Fadli.


Fadli mengatakan pemerintah desa juga ikut mendukung pembangunan tersebut karena jarak ke masjid terdekat cukup jauh.


“Sekarang Alhamdulillah jamaah yang dulu tidak bisa menjangkau masjid karena jauh, sudah bisa salat di sini. Kedepan, masyarakat berharap masjid ini tidak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga pusat kegiatan keagamaan,” terangnya.


Fadli menambahkan masih terdapat sisa lahan di sekitar masjid yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan di masa mendatang.


“Insya Allah kalau ada rezeki, mungkin bisa dikembangkan untuk kegiatan pendidikan agama atau tempat tahfiz,” ujarnya.

 

Jejak panjang Islam di Tanah Luwu

Keberadaan Masjid Ar-Rasyid juga memiliki makna yang lebih luas dalam konteks sejarah.


Wilayah Luwu dikenal sebagai salah satu daerah awal berkembangnya Islam di Sulawesi Selatan.


Catatan sejarah menyebutkan bahwa Islam mulai masuk dan berkembang di wilayah ini pada tahun 1603 Masehi, ketika tiga ulama dari Minangkabau datang menyebarkan ajaran Islam di tanah Luwu.


Ketiga ulama tersebut adalah, Datuk Sulaiman, Datuk Ri Bandang  dan Datuk Ri Tiro.


Dari kawasan pesisir seperti inilah ajaran Islam kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah di Jazirah Sulawesi.


Lebih dari empat abad setelah peristiwa tersebut, semangat keislaman masyarakat di pesisir Luwu masih terus terjaga.


Masjid Ar-Rasyid yang berdiri di tepian Sungai Labuang menjadi simbol kecil dari perjalanan panjang  bahwa di tanah yang pernah menjadi pintu masuk Islam di Luwu, masyarakatnya masih menjaga nilai kebersamaan dan religiusitas melalui semangat gotong royong membangun rumah ibadah.


Di tempat inilah, azan terus berkumandang, menghubungkan masa lalu dengan masa kini di tanah Luwu.

Previous Post Next Post