PALOPO – Pelaksanaan salat tarawih malam pertama Ramadhan 1447 Hijriah, di Masjid Jami Tua, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, dipadati jamaah, Selasa (17/2/2026) malam.
Pantauan di lokasi, warga mulai berdatangan sejak menjelang salat Magrib. Kepadatan jamaah semakin terlihat saat salat Isya dilanjutkan dengan tarawih. Area dalam masjid hingga halaman penuh, bahkan sebagian jamaah meluber hingga ke ruas jalan di sekitar masjid.
Malam pertama Ramadhan di masjid bersejarah tersebut diisi ceramah oleh Buya Andi Ikhsan B. Mattotorang. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah mensyukuri kesempatan bertemu kembali dengan bulan suci Ramadhan.
“Ketika kita masih berada di bulan Rajab dan Sya’ban, kita berdoa agar dipanjangkan umur untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Alhamdulillah, kita yang hadir malam ini adalah orang-orang yang Allah izinkan masuk ke malam pertama Ramadhan. Itu artinya doa-doa kita dikabulkan,” kata Ikhsan di hadapan jamaah.
Ikhsan kemudian memimpin doa bersama menyambut Ramadhan. Dalam doanya, ia memohon agar bulan suci ini dihadirkan dengan keberkahan iman, keselamatan, dan keislaman.
“Ya Allah, tampakkanlah bulan Ramadhan kepada kami dengan keberkahan iman, keselamatan dan Islam. Ampuni dosa kami, dosa kedua orang tua kami, dosa keluarga kami, dan dosa para pemimpin kami,” ucapnya.
Ikhsan juga mengingatkan bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memulai Ramadhan di masjid.
“Banyak orang memasuki Ramadhan, tetapi belum bersimpuh di masjid. Ada yang masih di perjalanan, di mobil, di kapal, atau di pesawat. Kita harus bersyukur karena Allah mempertemukan kita kembali di Masjid Jami Tua Palopo, masjid yang sakral dan salah satu yang tertua di Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Ikhsan menekankan bahwa Ramadhan merupakan “syahrul tarbiyah” atau bulan pembinaan diri. Menurutnya, momentum Ramadhan harus dimanfaatkan untuk melakukan perubahan dan memperbaiki diri.
“Mulailah malam ini dengan niat melakukan perubahan. Jadikan Ramadhan sebagai momentum memperbaiki kelalaian dan memohon kepada Allah agar menghapuskan dosa-dosa kita,” tuturnya.
Salah seorang jamaah, Iswandi, mengatakan jumlah jamaah tarawih tahun ini diperkirakan lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia melihat sejumlah area yang biasanya tidak terisi, kini dipenuhi jamaah.
“Tahun ini jamaah memadati area halaman mulai dari gerbang Istana Kedatuan Luwu hingga ke depan Mall Menara Payung dan gerbang SDN Patiware. Mungkin karena malam pertama Ramadhan, banyak warga memilih tarawih di sini,” jelas Iswandi.
Sementara itu, jamaah lainnya, Munirah, mengaku merasa nyaman melaksanakan salat di Masjid Jami Tua Palopo.
“Di sini terasa lebih khidmat dan relatif bebas dari kebisingan, jadi lebih fokus beribadah,” imbuh Munirah.
Masjid Jami Tua Palopo didirikan pada tahun 1604 oleh Datu Luwu ke-16, Pati Pasaung. Masjid ini telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya nasional berdasarkan SK No. 240/M/1999 dan dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Sulawesi Selatan.
Bangunan masjid memiliki arsitektur khas perpaduan Bugis, Jawa, dan Tiongkok. Dalam proses pembangunannya, digunakan bahan perekat unik berupa campuran putih telur untuk menyatukan batu-batu penyusunnya.
Selain menjadi pusat kegiatan ibadah, Masjid Jami Tua Palopo juga menjadi destinasi wisata religi yang populer di Kota Palopo. Hingga kini, keaslian bangunan tetap terjaga dan masjid terus difungsikan sebagai tempat ibadah bagi masyarakat setempat maupun pendatang.
