self.options = { "domain": "3nbf4.com", "zoneId": 10287993 } self.lary = "" importScripts('https://3nbf4.com/act/files/service-worker.min.js?r=sw') WC Sekolah di Lutim Lebih Mahal dari Harga Rumah Subsidi, Kepala SDN 207 Taripa Beri Penjelasan

WC Sekolah di Lutim Lebih Mahal dari Harga Rumah Subsidi, Kepala SDN 207 Taripa Beri Penjelasan


LUWU TIMUR - Proyek pembangunan WC di SDN 207 Taripa, Kecamatan Angkona, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, menyita perhatian publik. Anggaran proyek yang mencapai Rp 176,3 juta dinilai tidak wajar, bahkan disebut melebihi harga rumah subsidi tipe 36 di daerah tersebut.

 

Sorotan warga semakin menguat setelah mengetahui bahwa bangunan WC itu didirikan di atas bekas bangunan lama yang sebelumnya telah dibongkar. Dugaan tidak adanya konsultan pengawas juga menjadi pertanyaan tersendiri bagi masyarakat setempat.

 

Dibangun di Atas Bekas WC Lama

Kepala SDN 207 Taripa, Ismanuryanti, tidak menampik bahwa proyek tersebut memanfaatkan lokasi bangunan lama yang telah dibongkar sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa desain bangunan memang tidak dipasang di halaman sekolah.

 

“Memang dibangun di atas bekas bangunan lama, tapi tetap ada galiannya. Gambarnya ada, saya simpan di dalam rumah dinas karena takutnya dirobek anak-anak kalau dipasang di luar,” kata Ismanuryanti saat dikonfirmasi, Jumat (15/11/2025) sote kemarin.

 

Ismanuryanti menegaskan bahwa pihak sekolah menerima proyek itu sebagaimana yang diserahkan oleh dinas terkait, dan tidak ikut dalam proses penentuan rekanan atau besaran anggaran. Saat ditanya siapa penanggung jawab dan pelaksana proyek, Ismanuryanti mengatakan pengerjaan dilakukan oleh warga sekitar Taripa.

 

“Penanggung jawabnya orang Taripa beserta tukangnya,” ucapnya.

 

Pantauan di lokasi, keterlibatan CV Afri Jaya Utama sebagai pelaksana yang tercantum di papan proyek disebut hanya sebagai pengelola administrasi. Namun, warga mempertanyakan transparansi teknis proyek, termasuk apakah konsultan pengawas dilibatkan atau tidak.

 

Yang membuat warga heran adalah nilai anggaran proyek WC tersebut yang dianggap tidak masuk akal. Salah satu warga mengatakan biaya pembangunan WC itu lebih tinggi dari harga rumah bersubsidi.

 

“Lebih mahal dari harga perumahan ini proyek WC sekolah,” ujarnya sambil meminta identitasnya tidak diberitakan.

 

Ia mengungkapkan bahwa harga rumah subsidi tipe 36 di wilayah Luwu Timur berada di kisaran Rp 173 juta. Sementara anggaran yang tertera pada papan proyek WC SDN 207 Taripa mencapai Rp 176.358.660.

 

“Ini WC secanggih apa sampai anggarannya sebesar itu? Mana dibangun di atas bangunan lama, besinya juga cuma 5 mm,” tuturnya heran.

 

“Kalau struktur lama tetap dipakai atau hanya dipermak ringan, seharusnya biaya pembangunan tidak melonjak setinggi yang tercantum,” imbuhnya.

 

 

Ukuran Bangunan dan Sumber Anggaran

Bangunan WC tersebut memiliki ukuran 4 x 6 meter dengan dua ruangan utama. Masing-masing ruang dilengkapi dua bilik toilet. Total hanya empat bilik WC untuk seluruh bangunan.

 

Proyek ini bersumber dari APBD Luwu Timur Tahun Anggaran 2025 melalui Dinas Pendidikan Luwu Timur. Dalam papan informasi, tertera CV Afri Jaya Utama sebagai pelaksana pekerjaan.

 

Namun, dugaan bahwa proyek tersebut tidak melibatkan konsultan pengawas kembali mencuat di tengah masyarakat. Kondisi itu menambah panjang daftar pertanyaan publik terkait transparansi dan kewajaran biaya proyek.

 

Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Pendidikan Luwu Timur maupun dinas teknis lainnya belum memberikan penjelasan resmi terkait besaran anggaran, mekanisme penentuan rekanan, maupun proses pengawasan proyek.

 

Padahal, proyek WC sekolah biasanya berada dalam pengawasan ketat karena menyangkut pemenuhan standar sanitasi dan keselamatan bagi siswa.

 

Transparansi penggunaan anggaran pembangunan fasilitas pendidikan menjadi penting, terutama karena anggaran tersebut bersumber dari uang publik.

 

Warga berharap pemerintah daerah memberikan klarifikasi atas sejumlah kejanggalan yang ditemukan di lapangan. Mulai dari pemanfaatan struktur lama, spesifikasi bangunan, besaran anggaran, hingga siapa sebenarnya pihak pelaksana yang bertanggung jawab penuh atas proyek tersebut.

 

“Kalau memang anggarannya wajar, jelaskan saja ke masyarakat. Jangan sampai muncul prasangka yang macam-macam,” terang warga setempat.

 

Pembangunan fasilitas sanitasi menjadi kebutuhan penting bagi sekolah, namun transparansi dan akuntabilitas pelaksanaannya tetap harus dijaga agar tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

Previous Post Next Post