Hadiri Rakor Bunda PAUD Kabupaten Pinrang, Naoemi Octarina Harap Bunda PAUD Bentuk PAUD Holistik Integratif
INSPIRASI TIMUR INDONESIA

PINRANG - Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Sulawesi Selatan (Sulsel), Naoemi Octarina menghadiri secara virtual Rakor Bunda PAUD Kabupaten Pinrang yang dirangkaikan Pengukuhan Bunda PAUD Kecamatan se Kabupaten Pinrang dan Pengukuhan Pokja Bunda PAUD Kabupaten Pinrang, Kamis, 23 September 2021.

Dalam kesempatan itu, Naoemi Octarina memaparkan peran Bunda PAUD dalam pengembangan anak usia dini. Ia menyampaikan selamat kepada para pengurus yang dikukuhkan, Ia berharap semoga ke depannya bisa melaksanakan program-program kerja dengan baik dan amanah.

“Serta langsung tepat sasaran. Yaitu bagaimana membentuk PAUD holistik integratif (HI),” kata Naoemi.

Demikian juga dengan peran Bunda PAUD dapat meningkatkan jumlah anak usia dini agar dapat menempuh atau melalui tahap pendidikan di PAUD, di Sulsel sendiri angka partisipasi PAUD masih 35,75 persen dengan jumlah penduduk usia 3-6 tahun sebesar 640.302 orang. “Artinya, masih banyak anak usia dini belum melalui tahapan PAUD,” sebutnya.

Bunda PAUD diharapkan dapat menjadi figur dan tokoh sentral dari gerakan nasional PAUD. Sehingga Bunda PAUD dapa memberikan pemikiran, saran dan motivasi kepada penyelenggara dan tenaga pendidik serta keluarga untuk dapat memberikan sosialisasi sehingga dapat mendukung pembinaan dan mendorong dalam pengembangan PAUD berkualitas.

Demikian juga, Peran Bunda PAUD mengoptimalkan sumber dana yang berasal dari APBN, APBD, Dana Desa atau CSR maupun dana lain dari masyarakat yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung terselenggaranya PAUD yang berkualitas dengan dukungan Dinas Pendidikan dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP3A setempat.

Bunda PAUD juga berperan dalam penanganan stunting, Naoemi menyebutkan 3,8 persen balita di Sulsel mengalami stunting. Sementara anak tumbuh sehat jasmani dan rohani akan terwujud jika perkembangan anak usia dini dilakukan secara holistik dan integrated termasuk dalam pemenuhan gizinya.

Naoemi menyebutkan pengembangan anak usia dini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan esensial anak yang beragam dan saling terkait secara simultan dan sistematis dan terintegrasi. Kebutuhan esensial meliputan pendidikan, pengasuhan, perlindungan, gizi, kesehatan, perawatan dan kesejahteraan.

“Peran Bunda PAUD tidak hanya pada sistemnya, tetapi bagaimana mengubah pola pikir dari tenaga pendidik, seorang ibu, seorang ayah dalam pengasuhan anak. Bagaimana memberikan asupan gizi yang baik, memperkenalkan kepada mereka makanan sehat,” harapnya.

Bukan hanya pemenuhan pendidikan dan kesehatan, tetapi juga perlindungan kekerasan fisik terhadap anak juga perlu menjadi perhatian Bunda PAUD.

“Aspek perlindungan anak ditekankan kepada tenaga pendidik, perlindungan anak pada saat mereka belajar di sekolah. Demikian juga perlindungan anak dalam pengasuhan,” ujarnya.

Ia menyebutkan contoh kekerasan anak yang terjadi pada anak PA berumur 6 tahun di Kabupaten Gowa. Walaupun telah mengalami pemulihan tetapi masih meninggalkan trauma.

“Jadi bagaimana peran Bunda PAUD yang ada di kabupaten/kota, kecamatan dan desa memberikan perlindungan kepada anak dari kekerasan fisik harus kita perhatikan,” sebutnya.(*)

Previous Post Next Post