Inspirasi Timur

 


LUWU - Keterbasan fasilitas sekolah bagi pelajar Madrasah Ibtidaiyah (MI) Desa Salubua, Kecamatan Suli Barat, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menjadi tantanga sendiri bagi mereka untuk mengikuti tes ujian Nasional dengan mengunakan media elektronik Komputer atau Ujian Berbasis Komputer (UNBK).

Bersama dengan 9 teman, Sultan Hasanuddin berjalan kaki dari rumahnya menelusuri kaki bukit, perkebunan warga, hutan belantara dan melewati derasnya aliran Sungai Suli menggunakan rakit dari Bambu, untuk bisa mengakses jaringan Internet.

Tempat yang di tujuh bukanlah sekolah yang menjadi pelaksa  ujian berbasis komputer itu, melaikan mereka  hanya menumpang di rumah warga yang memiliki jaringan Internet.

Perjuangan mereka tak sampai di situ,Jauhnya jarak yang harus ditempuh, memaksa 10 orang siswa Madrasah ini, harus berpisah dengan orang tuanya, selama 10 hari.

Dengan kondisi demikian mereka harus memabawa bekal diantaranya Beras 8 liter, sayur dan cabai. Bekal ini, lalu diserahkan pada tuan rumah, untuk dimasak, lalu dimakan beramai-ramai.



Menurut Sultan dan rekannya, mengatakan bahwa jarak rumah mereka sekitar 20 kilometer dari sekolah dan tempat pelaksanaan UNBK, sehingga harus menumpang di rumah warga

"Kami Harus menumpang di rumah warga, kami bawa bekal untuk kebutuhan makan dan minum selama 10 hari. ada yang bawa sayur dari kampung, ada juga cabai dan uang Rp 150 ribu, bekal ini digunakan secukupnya selama mengikuti UNBK,"kata Sultan Hasanuddin, Kamis (02/05/2019).

Selama dalam perjalanan, kadang mereka harus berhenti di rumah warga atau pondok kebun jika hujan turun, setelah reda baru dilanjutkan.

“Kami berangkat pagi-pagi dari rumah, setelah Salat Subuh, saat suara burung burung pagi masih berbunyi, dan membawa bekal untuk makan siang dalam perjalanan,” ucapnya. 

Sultan bercita-cita, kelak jika sudah dewasa, dia ingin menjadi Tentara. Meski sudah tidak punya kedua orang tua, dia tetap semangat menutut ilmu.

"Saya suka seragamnya, makanya sangat pengen jadi Tentara, itu cita-citaku selama ini,” tuturnya.

Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Salubua, Idawati mengatakan bahwa di desanya, tidak ada jaringan telepon dan internet. Sehingga harus mencari lokasi lain, yang terjangkau jaringan internet.

"Kebetulan ada rumah warga yang kosong, dan hanya di lokasi itu, sudah bisa mengakses jaringan internet Pemilik rumah, tidak memungut biaya sepeserpun, selama para siswa menggunakan rumahnya.

"Kami hanya bawa meja, karpet untuk duduk, dan beberapa laptop serta komputer," ujarnya.

Di rumah tersebut, selain siswa MI, ada juga 25 siswa Madrasah Tsanawiyah, yang mengikuti UNBK.

"Untuk siswa MI, ujiannya pakai HP Android, karena kami hanya punya beberapa laptop," kata Idawati.

Meskipun dengan fasilitas seadanya, para siswa peserta UNBK, mampu mengerjakan soal-soal dengan lancar.(*)

Previous Post Next Post