LUWU UTARA – Salah seorang warga
asal kecamatan Rampi, kabupaten Luwu Utara, Sulawesi selatan, pada Kamis
(7022019) yang meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Andi
Djemma Masamba terpaksa harus digotong dengan berjalan kaki menuju rumah duka
sejauh 60 kilometer.
Indah berharap dengan kejadian yang memilukan
warganya tersebut pemerintah pusat juga dapat memperhatikan kondisi tersebut.
Ranti Tanta adalah jenasah yang harus dengan
terpaksa digotong dengan berjalan kaki oleh keluarga menggunakan sarung
dan balok kayu karena tidak mampu membayar biaya pesawat
yang di patok 50 juta rupiah sebagai alat trasnportasi satu-satunya selain ojek.
Saat meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Andi
Djemma Masamba, Jenazah Ranti diantar menggunakan mobil Ambulance dari Masamba,
Luwu Utara menuju desa Bada Ngkaia, kecamatan Lore Selatan, kabupaten Poso, Sulawesi
Tengah dan selanjutnya jenasah di gotong menuju kecamatan Rampi melewati
kawasan hutan lindung dan melintasi sungai Lariang.
Pihak keluarga memilih menggotong jenazah
dari Poso karena wilayah ini merupakan wilayah terdekat dengan kecamatan Rampi
yang hanya berjarak 60 kilometer.
“Waktu itu keluarga memilih untuk menggotong
jenazah karena tidak memiliki biaya dan akses jalan tidak bagus untuk dilewati
kendaraan, satu satunya kendaraan yang bisa adalah pesawat udara namun dimintai
biaya hingga Rp 50 juta,” kata Melki warga Rampi yang diitemui, Selasa
(12022019).
Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani, saat
dikonfirmasi di ruang kerjanya Selasa (12022019) petang mengatakan
bahwa dirinya prihatin dan sedih karena kondisi seperti ini sudah berulang kali
dialami oleh masyarakat Rampi khususnya di awal-awal tahun dimana kargo pesawat
ini belum selesai proses lelangnya.
“Pemerintah kabupaten Luwu Utara tidak pernah
berhenti membuka akses sebagaimana yang bisa kami sampaikan bahwa selama 3
tahun terakhir kami telah mengalokasikan anggaran dan menyiapkan alat berat
untuk membuka akses,” kata Indah Putri.
Menurut Indah, posisi alat berat saat ini
yang memperbaiki jalan sudah berada di puncak yang tinggal 3 kilometer daerah
yang sangat sulit untuk dibuka.
“Masyarakat Rampi karena persoalan akses
mereka lebih memilih menempuh jalur darat menuju ke Poso Sulawesi Tengah
kemudian jalan kaki melewati lembah Bada menuju desa mereka,” ujarnya.
Indah berharap dengan kejadian yang memilukan
warganya tersebut pemerintah pusat juga dapat memperhatikan kondisi tersebut.
“Dengan kondisi ini kami berharap pemerintah
pusat memperhatikan karena dengan kondisi ini kalau hanya pemerintah daerah
keterbatasan terutama dari topografi kalau dilihat wilayah jalan yang dilalui
oleh masyarakat Rampi itu memang kondisinya sangat labil dan pemerintah daerah
Luwu Utara telah mengusulkan dan telah mendapatkan ijin pinjam pakai dari
Kementerian Kehutanan untuk membuka akses jalan tetapi tetap karena kondisinya
yang memang sulit maka satu-satunya jalan atau akses yang mudah adalah
transportasi udara,” ucapnya.
Menurut Indah, jarak antara ibu kota Masamba
Luwu Utara dengan kecamatan Rampi sejauh 80 kilometer dan baru beberapa
kilometer saja bisa dilalui kendaraan roda empat.
“Untuk kendaraan roda empat sudah sampai di
batas antara kecamatan Masamba dan kecamatan Rampi, jadi kami sudah buka akses
bahkan ada beberapa kilometer sudah diaspal kemudian kami juga tahun lalu
membangun 2 jembatan penghubung, yang jadi masalah adalah di dalam kecamatan
Rampi sendiri karena topografinya sangat sulit,” tuturnya.
