Viral Warga Rampi Gotong Jenazah, Indah Putri ; Pembangunan Jalan Ke Rampi Butuh Kerja Sama Antar Pemerintah Provinsi dan Pusat




LUWU UTARA  – Akses warga kecamatan Rampi di Luwu Utara, Sulawesi Selatan yang masih belum memadai membuat warga terisolasi, moda transportasi yang diandalkan hanya transportasi ojek dan pesawat udara jenis Cessna C208B itupun biayanya cukup mahal.

Kondisi akses warga yang masih tertinggal tersebut membuat warga hampir setiap tahunnya terjadi kasus seperti menggotong jenazah dari Luwu Utara menuju  kecamatan Rampi dengan berjalan kaki, salah satunya seperti yang dialami salah seorang warga asal kecamatan Rampi, pada Kamis (07/02/2019) lalu yang meninggal dunia setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Andi Djemma Masamba terpaksa harus digotong dengan berjalan kaki menuju rumah duka di kecamatan Rampi sejauh 60 kilometer, adalah Ranti Tanta dengan terpaksa digotong dengan berjalan kaki oleh keluarga menggunakan sarung dan  balok kayu karena tidak mampu membayar biaya pesawat yang di patok Rp 50 Juta sebagai alat transportasi satu-satunya selain ojek.

Jenazah Ranti Tanta yang di gotong sejauh 60 kilometer tersebut melewati kawasan hutan lindung,  bertebing,  berbatu dan berpasir  serta berlumpur membuat bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani mengaku cukup prihatin dengan kondisi yang dialami warganya.

Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani saat dikonfirmasi kompas.com Rabu (13/02/2019) mengatakan bahwa pemerintah Kabupaten Luwu Utara terus berupaya untuk membuka akses jalan dengan menyiapkan anggaran cukup besar, namun keadaan alam atau topography kurang mendukung sehingga sangat menyulitkan pembukaan akses jalan,  bahkan upaya pemerintah membuka akses dalam 3 tahun terakhir ini membuat alat berat yang bekerja kerap diistrahatkan karena mengalami kerusakan.

“Memang butuh kerjasama dengan pemerintah provinsi Sulawesi Selatan, dan pemerintah pusat untuk sama-sama  memikirkan alternatif,” kata Indah Putri Indriani.

Menurutnya tahun 2019 ini telah diusulkan melalui revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) pembebasan atau pelepasan kawasan atau penurunan kawasan hutan karena akses yang dulu sering digunakan masyarakat  Rampi adalah melalui kecamatan Seko.

“Masyarakat Rampi dulunya melewati kecamatan Seko, yaitu dari desa Tedeboe kecamatan Rampi yang dihubungkan dengan desa Taloto kecamatan Seko, itu jaraknya sekitar 40 kilometer dan ini menjadi pilihan, hanya saja memang tetap harus mutar tetapi paling tidak karena perhatian pemerintah pusat dan provinsi akhir-akhir ini cukup besar ke kecamatan Seko, paling tidak ini mejadi alternatif,” ucapnya.
        

Kecamatan Rampi merupakan salah satu kecamatan terjauh di Luwu Utara, dengan jumlah penduduk diatas 5 ribu jiwa, tersebar di 6 desa masing masing desa Onondowa, desa Sulaku, desa Leboni, desa Tedeboe, desa Dodolo dan desa Rampi, warga yang ada di daerah tersebut hanya mengandalkan ojek dengan tarif yang mahal yakni  Rp 800.000, sementara akses transportasi udara yang menggunakan pesawat jenis Cessna C208B milik Susi Air yang berukuran kecil jarang diminati warga karena memiliki harga tiket yang mahal, tak hanya itu sulitnya mendapat tiket penerbangan untik masuk dan keluar kecamatan Rampi membuat warga terpaksa menggantungkan hidup dengan mengandalkan kendaraan ojek.

Previous Post Next Post