Notification

×

Iklan

INSPIRASI TIMUR INDONESIA

Iklan

Indeks Berita

Melawan Api di Buntu Barru, Kisah Pengabdian Pj Kades Lengkong Selamatkan Kebun Warga

Friday, 23 October 2026 | October 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-23T07:53:20Z

LUWU – Di tengah gelapnya malam dan pekatnya asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di pegunungan Buntu Barru, Desa Lengkong, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Muh. Darusalam memilih tetap bertahan di lokasi kebakaran.

Penjabat (Pj) Kepala Desa Lengkong itu berjibaku bersama warga, petugas pemadam kebakaran, aparat kepolisian, dan unsur pemerintah kecamatan untuk memadamkan api yang terus merambat di kawasan pegunungan. Waktu istirahat nyaris tak ada. Makan dan minum pun kerap terlupakan di tengah upaya menyelamatkan lahan dan mengantisipasi api mendekati permukiman.


Sejak kebakaran mulai melanda wilayah tersebut, Darusalam turun langsung ke lapangan bersama warga dan kepala desa terpilih melalui mekanisme pergantian antarwaktu (PAW). Mereka menyusuri kawasan pegunungan untuk mencari titik api, sekaligus berupaya memadamkan kobaran yang berpotensi meluas.


Bahkan, Darusalam mengaku sempat berkeliling melintasi kawasan pegunungan Buntu Barru hingga dini hari. Bersama warga dan petugas, ia mencari sumber api yang masih menyala agar kebakaran tidak semakin meluas.


Di tengah situasi tersebut, perhatian terhadap kebutuhan pribadi seolah tersisih. Makan dan minum bukan lagi menjadi prioritas, sementara waktu tidur hampir tidak tersedia selama proses penanganan kebakaran berlangsung.


Bagi warga Lengkong, perjuangan itu bukan sekadar memadamkan api. Mereka juga berupaya menyelamatkan kebun yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga.


Api Menyebar di Tujuh Titik

Darusalam mengatakan, kebakaran di kawasan Buntu Barru telah menyebar ke tujuh titik lokasi, mulai dari bagian barat hingga ke arah timur.


“Untuk di Desa Lengkong, di Buntu Barru, titik kebakaran sudah mencapai tujuh titik lokasi, mulai dari arah barat sampai mengarah ke timur,” kata Darusalam.


Luas area yang terdampak kebakaran diperkirakan telah mencapai sekitar 100 hektare. Kobaran api juga menghanguskan tanaman perkebunan milik masyarakat yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi warga.


Tanaman cengkeh dilaporkan terdampak dengan jumlah pohon yang terbakar lebih dari 100 pohon. Selain itu, terdapat tanaman kakao, pala, dan merica yang ikut terancam maupun terdampak kobaran api.


Di bagian timur kawasan kebakaran, api dilaporkan telah merambat ke area perkebunan merica milik warga.


“Kalau kerugian secara material, sementara ini sudah mencapai ratusan juta rupiah,” ujar Darusalam.


Angka tersebut masih berupa perkiraan sementara. Besarnya kerugian yang dialami setiap petani perlu dipastikan melalui pendataan lebih lanjut setelah kondisi kebakaran terkendali.


Medan Terjal dan Air Terbatas Jadi Kendala

Upaya pemadaman di Buntu Barru tidak berjalan mudah. Petugas dan warga harus menghadapi medan pegunungan yang terjal dan menanjak, sementara ketersediaan air di lokasi sangat terbatas.


Asap pekat juga menjadi ancaman bagi warga dan petugas yang bekerja di sekitar titik kebakaran. Di tengah kebutuhan untuk terus memadamkan api, ketersediaan masker pelindung masih belum mencukupi.


Pemerintah Desa Lengkong terus berkoordinasi untuk mengupayakan bantuan masker bagi warga dan petugas yang terlibat dalam penanganan karhutla.


Darusalam juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun membakar sampah yang berpotensi memicu kebakaran baru.


Selain itu, warga didorong bergotong royong membersihkan jalur tertentu untuk membantu memutus rambatan api. Upaya tersebut menjadi salah satu langkah pencegahan sementara, terutama di kawasan yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.


“Kami berharap masyarakat ikut berpartisipasi membantu tim dan relawan yang sedang berjuang memadamkan api di Desa Lengkong,” katanya.


Butuh Air Bersih dan Armada Pemadam

Di tengah upaya pemadaman yang terus berlangsung, pemerintah desa masih membutuhkan dukungan logistik dan peralatan untuk memperkuat penanganan kebakaran.


Menurut Darusalam, kebutuhan mendesak meliputi air untuk penyemprotan, air minum bagi petugas dan relawan, serta masker untuk mengurangi paparan asap.


Pemerintah desa juga berharap ada tambahan armada pemadam kebakaran, khususnya untuk menjangkau titik api di wilayah bagian selatan yang masih mengalami kebakaran.


“Kami masih kekurangan air untuk penyemprotan. Air bersih juga dibutuhkan untuk diminum saat berada di lokasi. Selain itu, kalau bisa, kami membutuhkan bantuan armada untuk pemadaman di wilayah bagian selatan karena masih ada titik api yang terbakar di sana,” ujar Darusalam.


Di tengah keterbatasan tersebut, warga, petugas, dan pemerintah setempat masih harus bekerja bersama menghadapi kobaran api di Buntu Barru.


Bagi Darusalam, setiap titik api yang berhasil dikendalikan berarti ada harapan untuk menyelamatkan lebih banyak kebun dan sumber penghidupan warga. Namun, selama api belum sepenuhnya terkendali, perjuangan di pegunungan Lengkong belum selesai.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update