Notification

×

Iklan

INSPIRASI TIMUR INDONESIA

Iklan

Indeks Berita

“Saya Rindu Sama Mama”, Sopir Travel Asal Toraja Tewas Ditembak di Wamena

الخميس، 17 سبتمبر 2026 | سبتمبر 17, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-17T06:01:20Z

TORAJA UTARA – Duka mendalam dirasakan keluarga Aris Sanda, sopir travel asal Tampan Bonga, Kecamatan Bangkelekila, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, yang tewas ditembak di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Aris Sanda meninggal dunia setelah diduga menjadi korban penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) saat berada di wilayah Wamena. Kepergiannya menyisakan luka mendalam bagi kedua orangtuanya yang selama ini menanti kepulangannya dari tanah rantau.


Dengan linangan air mata, ibu Aris, Elisabet Salasa, mengenang pesan terakhir putranya yang begitu berharap bisa kembali ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga.


“Tunggu Mama, nanti saya pulang, kita berkumpul,” kata Elisabet mengenang perkataan Aris.


Aris diketahui telah merantau ke Papua selama sekitar 23 tahun. Ia pergi ke Papua sejak masih bersekolah dengan mengikuti kakaknya.


Selama sekitar 13 tahun, Aris bekerja sebagai sopir dan melayani warga di wilayah Wamena dan sejumlah kawasan pegunungan, termasuk wilayah Mbua.


Di mata keluarga, Aris dikenal sebagai sosok sederhana, penyayang, dan ringan tangan membantu orang lain.


Meski jauh dari kampung halaman, Aris tetap memberikan perhatian kepada orangtuanya di Toraja Utara, terutama sang ayah dan ibu yang kini telah lanjut usia.


Elisabet mengatakan, putranya sering menghubungi keluarga dan mengirimkan uang untuk membantu memenuhi kebutuhan orangtuanya.


“Saya rindu sama Mama, kasihan Mama sama Bapak sudah tua,” ujar Elisabet menirukan perkataan Aris.


Tidak hanya kepada orangtua, Aris juga dikenal peduli terhadap saudara-saudaranya.


Menurut Elisabet, Aris kerap membantu adik-adiknya dan keponakannya, termasuk dalam urusan pendidikan, setiap kali memiliki rezeki.


“Dia baik sama saudaranya, membantu adik-adiknya, keponakannya sekolah,” katanya.


Aris merupakan anak keempat dari lima bersaudara. Selama lebih dari dua dekade berada di Papua, ia menjadi salah satu tulang punggung keluarga.


Keluarga pun masih menyimpan harapan Aris bisa pulang dan berkumpul bersama mereka setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan di perantauan.


Namun, harapan itu pupus.


Aris justru meninggal dunia setelah diduga ditembak kelompok bersenjata di Wamena.


Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, Aris diduga sempat dipaksa membuat pernyataan dukungan melalui sebuah video singkat terkait Papua Merdeka sebelum akhirnya tewas ditembak.


Kabar tersebut membuat keluarga terpukul. Anak yang selama ini pergi merantau untuk mencari nafkah justru tidak dapat kembali dalam keadaan hidup.


Di tengah kesedihan, Elisabet meminta pemerintah dan aparat keamanan mengusut kasus tersebut serta menangkap pihak yang bertanggung jawab atas kematian anaknya.


“Saya minta tolong kepada pemerintah, supaya ditangkap itu OPM yang begitu jahat sama anak saya, yang mencari nafkah di negeri Papua. Kenapa dia kejam sampai dia bunuh,” kata Elisabet.


Kini, keluarga hanya berharap jenazah Aris segera dipulangkan ke Toraja Utara.


Mereka ingin memberikan penghormatan terakhir dan memakamkan Aris di kampung halaman, di tengah keluarga yang selama ini dirindukannya.


Sementara itu, satuan tugas terkait masih mengoptimalkan pengamanan warga di sekitar lokasi kejadian.


Aparat juga terus melakukan upaya pengejaran terhadap pelaku penembakan.


Bagi keluarga di Toraja Utara, kepulangan Aris kini menjadi penantian terakhir setelah 23 tahun ia menjalani kehidupan di tanah rantau.

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق

×
Berita Terbaru Update