LUWU – Kemarau panjang yang diperparah fenomena El Nino mulai berdampak serius terhadap pertanian padi sawah di Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
Sebagian padi lahan persawahan mengalami puso atau
gagal panen akibat kekurangan air. Kondisi tersebut semakin diperparah karena
sejumlah lahan pertanian tidak mendapatkan pasokan air yang cukup dari jaringan
irigasi.
Camat Belopa Latif Muhammad
Abduh mengatakan, berdasarkan pendataan bersama Balai Penyuluhan Pertanian
(BPP) Kecamatan Belopa, terdapat 246,5 hektare lahan persawahan yang terancam
mengalami puso.
Lahan tersebut tersebar di
Desa Senga Selatan seluas 105 hektare, Desa Balubu 86,5 hektare, Desa
Kurrusumanga 50 hektare, dan Desa Senga sekitar 5 hektare.
"Dampak daripada kemarau
dan El Nino ini, khususnya untuk Kecamatan Belopa sangat berpengaruh besar
terhadap kondisi di lapangan, khususnya bagi petani," kata Latif.
Dari total lahan yang
terancam, sekitar 130 hektare telah mengalami puso. Lahan tersebut berada di
Desa Kurrusumanga, Balubu, dan Senga Selatan.
Sementara itu, sekitar 28
hektare masuk kategori terdampak ringan, 30,5 hektare masih terancam, dan
sekitar 58 hektare tanaman padi berada pada usia 15 hingga 60 hari.
Kondisi paling parah terjadi
di Desa Senga Selatan. Dari 105 hektare lahan persawahan yang terdata, sekitar
50 hektare telah dilaporkan mengalami puso sejak akhir Agustus 2026.
"Untuk wilayah Senga
Selatan kondisinya per hari ini kurang lebih ada 105 hektare. Dari 105 hektare
ini yang sudah teridentifikasi mengalami puso itu sudah ada 50 hektare,"
ujar Latif.
Menurut dia, pemerintah
daerah masih berupaya menyelamatkan sekitar 55 hektare lahan lainnya agar
tanaman padi yang masih bisa bertahan dapat dipanen.
Salah satu upaya yang
dilakukan yakni mendistribusikan air ke area persawahan. Pemerintah Kabupaten
Luwu berkolaborasi dengan PT Masmindo Dwi Area (MDA) menyalurkan bantuan air
menggunakan mobil tangki atau water truck ke wilayah yang terdampak kekeringan.
"Hari ini pemerintah
Kabupaten Luwu berkolaborasi dengan MDA untuk memberikan bantuan water truck
yang ada di Desa Senga Selatan," kata Latif.
Selain distribusi air, kolaborasi
pemerintah dengan
MDA juga merencanakan
pembangunan sumur bor di Senga Selatan dan Kurusumanga untuk membantu memenuhi kebutuhan
air bagi lahan pertanian dan masyarakat.
Latif menjelaskan, sebagian
besar persawahan di Desa Senga Selatan merupakan sawah tadah hujan. Kondisi
tersebut membuat lahan pertanian sangat bergantung pada curah hujan.
"Sebagian besar adalah
sawah tadah hujan. Sehingga sumber air yang ada dari Bendung Suplesi Radda itu
tidak mampu sampai ke sini," jelasnya.
Dengan kondisi tersebut,
satu-satunya sumber air yang diandalkan petani adalah hujan. Namun, hingga saat
ini curah hujan yang turun belum mampu memenuhi kebutuhan tanaman padi.
"Harapan satu-satunya
hanyalah dari alam, yaitu curah hujan. Sampai hari ini baru dua kali hujan dan
itu juga belum memenuhi kebutuhan daripada padi," ujarnya.
Latif mengapresiasi perhatian
Pemerintah Kabupaten Luwu dan dukungan MDA dalam membantu masyarakat menghadapi
dampak kekeringan.
Dia berharap distribusi air
yang dilakukan dapat membantu menyelamatkan tanaman padi yang masih berpotensi
dipanen.
"Saya mewakili seluruh
masyarakat Kecamatan Belopa mengucapkan banyak terima kasih kepada MDA atas
dukungan dan support terkait dengan kondisi yang dialami oleh masyarakat
kami," kata Latif.
"Insya Allah apa yang
menjadi upaya-upaya oleh MDA ini dapat berjalan sesuai dengan apa yang
diharapkan," lanjutnya.

No comments:
Post a Comment