Notification

×

Iklan

INSPIRASI TIMUR INDONESIA

Iklan

Indeks Berita

KJL Rumaju Aktif Atasi Debu, Jadi Jembatan Keluhan Warga dengan MDA

Monday, 14 September 2026 | September 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-13T22:43:56Z

LUWU – Aktivitas penggalian kabel listrik PLN yang berlangsung di tengah musim kemarau membuat persoalan debu menjadi perhatian warga di sejumlah wilayah Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

 


Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak melakukan penyiraman jalan untuk mengurangi debu yang beterbangan saat kendaraan melintas.

 

Salah satunya dilakukan oleh Kader Jaga Lingkungan (KJL) Desa Rumaju, Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu.

 

Heri (40), Kader Jaga Lingkungan Desa Rumaju, mengatakan penyiraman dilakukan secara rutin menggunakan selang yang terhubung dengan mesin penyedot air.

 

"Proses penyiraman jalan di sini menggunakan selang dibantu mesin," kata Heri, Selasa (8/9/2026).

 

Menurut Heri, penyiraman umumnya dilakukan dua kali dalam sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Namun, apabila kondisi jalan cukup berdebu, penyiraman juga dilakukan pada siang hari.

 

Upaya tersebut dinilai cukup efektif untuk mengurangi debu, terutama selama musim kemarau ketika kondisi jalan lebih kering.

 

"Kalau untuk efektivitas cukup membantu menangani debu selama musim kemarau dan bertepatan dengan penggalian kabel PLN," ucapnya.

 

Selain penyiraman yang dilakukan KJL, PT Masmindo Dwi Area (MDA) juga turut mengerahkan kendaraan tangki untuk melakukan penyiraman jalan.

 

Heri mengatakan, kendaraan roda empat milik MDA biasanya melakukan penyiraman sekitar dua kali dalam sehari.

 

Menurut dia, langkah tersebut turut membantu mengurangi debu yang dirasakan masyarakat di sepanjang ruas jalan yang menjadi lokasi aktivitas kendaraan dan pekerjaan proyek.

 

Tiga anggota turun ke lapangan

Heri menjelaskan, KJL yang berada di Desa Rumaju merupakan bagian dari Fordes Matappa. Terdapat tiga orang yang memiliki tugas dalam kegiatan tersebut.

 

Ketiganya menjalankan tugas yang telah diprogramkan, termasuk melakukan penyiraman di sejumlah titik yang dianggap membutuhkan penanganan.

 

"Kami sebagai Fordes Matappa ada tiga orang. Punya tugas yang sudah terprogram dan kami turun semua melakukan penyiraman," ujar  Heri.

 

Penyiraman dilakukan di tiga titik, yakni sekitar area kantor Desa Rumaju, depan masjid, dan kawasan Jembatan Kadong-kadong.

 

Kegiatan tersebut dilakukan secara rutin untuk menjaga kondisi lingkungan sekaligus membantu masyarakat yang terdampak debu.

 

Meski demikian, pelaksanaan penyiraman tidak selalu berjalan tanpa kendala.

 

Heri menyebut salah satu persoalan yang dihadapi adalah ketersediaan air. Saat musim kemarau berlangsung, sumber air terkadang mengalami kekurangan sehingga perlu menyesuaikan kegiatan penyiraman dengan kondisi yang ada.

 

"Kalau untuk kendala biasanya air. Ketersediaannya kadang kurang karena faktor musim kemarau," tuturnya.

 

Kendati menghadapi keterbatasan tersebut, Heri mengaku tetap menjalankan tugas dengan senang hati.

 

Menurutnya, kegiatan penyiraman bukan hanya sebatas pekerjaan, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan dan kenyamanan masyarakat.

 

"Kami lakukan dengan penuh rasa senang karena kami bisa membantu supaya tidak terlalu banyak debu," imbuhnya.

 

Heri mengatakan, hingga saat ini dirinya belum menerima keluhan langsung dari warga terkait aktivitas KJL dalam melakukan penyiraman jalan.

 

Sebaliknya, masyarakat justru memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.

 

"Kalau sampai saat ini saya belum menerima komplain dari warga. Justru warga memberikan dukungan," jelasnya.

 

Selain menangani persoalan debu, KJL juga memiliki peran lain dalam hubungan antara masyarakat dengan PT Masmindo Dwi Area.

 

Heri mengatakan, KJL menjadi salah satu jembatan bagi warga untuk menyampaikan berbagai keluhan kepada pihak perusahaan.

 

Keluhan yang diterima dari masyarakat kemudian diteruskan kepada MDA untuk mendapatkan tindak lanjut.

 

"Kami juga menjadi jembatan atas keluhan warga terhadap MDA dan itu kami teruskan dan dilakukan oleh MDA," ujarnya.

 

Tidak hanya menangani keluhan terkait lingkungan, menurut Heri, terdapat pula sejumlah program sosial yang diinisiasi MDA dan melibatkan masyarakat setempat.

 

Program tersebut di antaranya bantuan kepada warga lanjut usia, anak yatim, penyandang disabilitas, serta warga yang sedang sakit.

 

Ia menilai bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian perusahaan terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasional.

 

"Walaupun mungkin tidak banyak, tapi memang benar-benar memberi bantuan," terangnya.

 

Bagi Heri, keberadaan KJL bukan hanya tentang menjaga lingkungan secara fisik. Lebih dari itu, KJL juga menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan perusahaan.

 

Dengan adanya komunikasi tersebut, berbagai persoalan yang muncul di lapangan diharapkan dapat disampaikan dan ditangani secara lebih cepat.

 

Kegiatan penyiraman jalan pun menjadi salah satu bentuk nyata dari upaya tersebut. Di tengah musim kemarau dan aktivitas penggalian kabel PLN, keberadaan KJL dinilai membantu mengurangi dampak debu yang dirasakan masyarakat.

 

Heri berharap kegiatan penyiraman dan komunikasi antara masyarakat dengan MDA dapat terus berjalan sehingga aktivitas pembangunan tetap berlangsung tanpa mengabaikan kenyamanan warga di sekitar lokasi.

 

"Yang penting kami bisa membantu masyarakat dan lingkungan supaya debu tidak terlalu banyak," katanya.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update