Notification

×

Iklan

INSPIRASI TIMUR INDONESIA

Iklan

Indeks Berita

Dampak Kekeringan, Sawah di Luwu Mulai Kekurangan Air, Petani Balo-balo Selamatkan Tanaman Pad

Wednesday, 9 September 2026 | September 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-09T06:05:39Z

LUWU – Petani di Kelurahan Balo-Balo, Kecamatan Belopa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, masih berjuang menyelamatkan tanaman padi mereka dari ancaman gagal panen akibat kekeringan yang telah berlangsung sekitar tiga bulan.

 


Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi pada tanaman padi yang kini memasuki fase bunting dan mulai mengeluarkan bulir.

 

Petani terpaksa mengandalkan pompa untuk mengambil air dari sungai dan mengalirkannya ke persawahan. Namun, keterbatasan mesin pompa dan biaya bahan bakar membuat upaya tersebut tidak mudah dilakukan secara terus-menerus.

 

Salah seorang petani, Ridwan, mengatakan tanaman padi di lahannya mulai mengeluarkan bulir, tetapi pertumbuhannya tidak berlangsung secara bersamaan akibat minimnya pasokan air.

 

"Padi yang mulai mengeluarkan bulir ini tidak bersamaan akibat pengaruh air yang minim karena sedang bunting dan butuh air," kata Ridwan, Rabu (9/9/2026).

 

Menurut Ridwan, kondisi pengairan semakin sulit selama musim kemarau. Air dari saluran irigasi sudah tidak ada untuk mengairi  tanaman sehingga petani harus mengambil air dari sungai menggunakan pompa.

 

"Kalau musim kemarau di sini air agak susah juga kalau dari pengairan. Makanya kami ambil menggunakan pompa dari sungai," ucapnya.

 

Persoalannya, air yang dipompa juga cepat menghilang akibat kondisi kekeringan. Bahkan, ketika pompa dihentikan pada malam hari, air di lahan disebut sudah kembali habis pada pagi harinya.

 

"Kalau pompa misalnya dimatikan malam, paginya air sudah habis lagi akibat kekeringan," ujar Ridwan.

 

Kondisi tersebut membuat petani berpacu dengan waktu. Jika dalam beberapa hari ke depan tanaman tidak mendapat pasokan air yang cukup, bulir padi dikhawatirkan tidak berkembang sempurna.

 

"Kalau beberapa hari ke depan ini tidak mendapat pasokan air, bulirnya akan layu dan tidak berisi," tuturnya.

 

Ridwan mengatakan, sekalipun bulir masih terisi, kualitas gabah berpotensi menurun. Beras yang dihasilkan bisa berukuran kecil sehingga berpengaruh terhadap harga jual dan minat pedagang.

 

"Kalaupun berisi, berasnya akan rusak seperti mengecil. Pedagang juga pasti nolak untuk dibeli," jelasnya.

 

Karena itu, Ridwan berharap pemerintah maupun pihak swasta turun tangan memberikan bantuan pompa air kepada petani.

 

Bantuan tersebut dinilai sangat mendesak karena sebagian tanaman padi masih memiliki peluang untuk diselamatkan, asalkan kebutuhan air dapat dipenuhi.

 

"Kami harap pemerintah atau pihak swasta memberi bantuan pompa air karena kami sangat membutuhkan itu untuk menyelamatkan padi," harap Ridwan.

 

Menurut dia, tanaman padi yang sejauh ini berhasil bertahan di wilayah tersebut rata-rata mendapat pasokan air melalui pompanisasi.

 

Namun, petani harus menyewa mesin pompa dan membeli bahan bakar secara mandiri. Kondisi itu membuat biaya produksi semakin besar di tengah ancaman hasil panen yang belum tentu sebanding.

 

"Soal apakah biaya dengan hasil sebanding kalau dipompa itu belakangan. Yang penting kita selamatkan dulu padi. Daripada kita amblas, lebih baik kita selamatkan," tegasnya.

 

15 Persen Sawah Balo-Balo Terdampak

Lurah Balo-Balo, Salahuddin, mengatakan kekeringan telah memberikan dampak terhadap sebagian lahan persawahan di wilayahnya.

 

Menurut dia, Kelurahan Balo-Balo memiliki sekitar 337 hektare area persawahan. Dari luasan tersebut, lebih dari 15 persen mengalami dampak kekeringan.

 

"Kekeringan yang dialami oleh warga kami di Kelurahan Balo-Balo, khususnya petani, kurang lebih 337 hektare area persawahan dan lebih 15 persen dari jumlah itu mengalami dampak kekeringan," kata Salahuddin.

 

Dua wilayah yang paling terdampak, kata dia, berada di Lingkungan Rasai dan Lingkungan Balalau.

 

Di Lingkungan Rasai, kondisi relatif lebih baik karena masih terdapat sumber air berupa sungai yang dapat dimanfaatkan untuk pompanisasi.

 

"Di Lingkungan Rasai tersedia sumber air sehingga memudahkan untuk dilakukan pompanisasi. Di sana memang ada sungai yang airnya bisa dipompa untuk masuk ke persawahan," ujarnya.

 

Sejumlah petani di wilayah tersebut bahkan telah memasuki masa panen karena melakukan penanaman lebih awal.

 

Sementara tanaman padi yang ditanam lebih terlambat kini menghadapi ancaman kekurangan air karena memasuki fase pertumbuhan saat musim kemarau berkepanjangan.

 

"Yang terlambat masuk kategori masih bisa diselamatkan karena masih bunting, belum membuah bulir. Tapi masih perlu stok air untuk pemeliharaannya," jelas Salahuddin.

 

Salahuddin menjelaskan, tanaman padi yang sedang berada pada fase pengisian bulir membutuhkan ketersediaan air yang cukup. Sementara kondisi tanah saat ini sudah mengering.

 

"Kondisi tanahnya kering dan sangat butuh air yang banyak. Karena dimasa pengisian bulir butuh air," ujarnya.

 

Pemerintah dan Swasta Diminta Turun Tangan

Salahuddin berharap ada dukungan nyata dari berbagai pihak untuk membantu petani menghadapi kondisi tersebut.

 

Menurut dia, bantuan paling mendesak saat ini adalah peralatan pompanisasi yang dapat mengambil air dari sumber air yang masih tersedia dan mengalirkannya ke saluran irigasi kemudian lahan pertanian.

 

"Harapan saya terkait dampak yang dirasakan petani dimasa kekeringan ini adalah adanya dukungan riil di lapangan terkait dengan peralatan atau perlengkapan yang bisa menghasilkan air untuk irigasi pertanian," tuturnya.

 

Salahuddin mencontohkan bantuan mesin pompa yang dapat digunakan untuk mengambil air sungai dan mengalirkannya ke persawahan.

 

Selain bantuan jangka pendek, pemerintah dan pihak terkait juga diharapkan memikirkan solusi jangka panjang untuk menghadapi ancaman kekeringan yang berulang.

 

Salah satunya dengan membangun sistem pompanisasi yang memanfaatkan sumber air bawah tanah sehingga dapat digunakan ketika terjadi kekeringan.

 

"Untuk jangka panjangnya, kalau bisa pompanisasi atau sumur bor dengan mengandalkan air di bawah tanah. Setiap waktu kalau misalnya ada kekeringan lagi, itu bisa dimanfaatkan," harapnya.

 

3.048 Hektare Sawah Terancam Kekeringan

Ancaman kekeringan di Kabupaten Luwu tidak hanya terjadi di Kelurahan Balo-Balo.

 

Data Dinas Pertanian Luwu mencatat sebanyak 3.048,88 hektare sawah terancam mengalami kekeringan. Dari jumlah tersebut, sekitar 109,88 hektare telah terdampak cukup berat.

 

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Luwu, Nasrawati, mengatakan data tersebut berdasarkan kondisi yang ditemukan di lapangan.

 

Salah satu wilayah yang cukup banyak menghadapi ancaman kekeringan adalah Kecamatan Belopa, sekitar 323 hektare sawah yang terdampak.

 

Lahan tersebut tersebar di sejumlah wilayah, yakni Desa Senga Selatan sekitar 87,80 hektare, Balubu 103,2 hektare, Kurrusumanga 55 hektare, Balo-Balo 54 hektare, Senga 5 hektare, dan Tampumia Radda 30 hektare.

 

Di wilayah tersebut, petani mulai kesulitan memperoleh pasokan air. Sebagian lahan persawahan tidak memiliki sumber air yang cukup untuk mempertahankan tanaman. Kondisi ini membuat bantuan pompa air menjadi salah satu kebutuhan mendesak bagi petani,” jelasnya.

 

Bagi petani seperti Ridwan, persoalan biaya pompanisasi untuk sementara bukan lagi menjadi pertimbangan utama. Yang lebih penting adalah memastikan tanaman yang sudah ditanam dan dirawat selama berbulan-bulan tidak berakhir gagal panen.

 

Jika bantuan pompa dapat segera disalurkan, sumber-sumber air yang masih tersedia di sekitar persawahan dapat dimanfaatkan untuk mempertahankan tanaman hingga memasuki masa panen.

 

Di tengah kekeringan yang telah berlangsung sekitar tiga bulan, intervensi cepat pemerintah, perusahaan, maupun pihak swasta melalui bantuan mesin pompa, bahan bakar, atau dukungan pompanisasi menjadi sangat penting agar petani tidak menanggung kerugian yang lebih besar.

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update