PALOPO – Kekeringan mulai mengancam tanaman padi milik petani di Kelurahan Takkalala, Kecamatan Wara Selatan, Kota Palopo, Sulawesi Selatan.
Puluhan hektare areal persawahan warga mengalami
kekurangan pasokan air selama lebih dari satu bulan. Kondisi itu membuat
tanaman padi yang rata-rata berusia sekitar 40 hingga 45 hari mulai menguning
dan terancam mati.
Jumat (21/8/2026) siang, sebagian petak sawah bahkan
mulai terlihat kering dan tanahnya retak. Petani kini berpacu dengan waktu
untuk menyelamatkan tanaman mereka sebelum memasuki masa panen.
Salah seorang petani, Jafar (56), mengatakan kekeringan
menjadi persoalan serius karena sawah di wilayah tersebut sebagian besar hanya
mengandalkan air hujan.
Selama musim kemarau, petani terpaksa memompa air dari
sungai yang berjarak sekitar 100 meter dari areal persawahan.
Namun, debit air sungai yang juga terus menyusut membuat
upaya tersebut semakin sulit.
“Selama musim kemarau kami mengairi sawah dengan memompa
air dari sungai yang jaraknya sekitar 100 meter. Sementara di sungai sudah
mulai kering juga,” kata Jafar, Jumat.
Menurut Jafar, kondisi semakin sulit karena banyak petani
membutuhkan sumber air yang sama.
Akibatnya, para petani harus berebut titik untuk memasang
pompa agar tanaman padi mereka tetap mendapatkan air.
“Teman-teman petani yang lain juga butuh. Jadi di sungai
itu kami berebutan mengambil titik untuk memompa air,” ucapnya.
Jafar mengatakan tanaman padinya yang kini berusia
sekitar 45 hari mulai menunjukkan tanda-tanda kekurangan air.
Daun tanaman mulai menguning. Jika dalam beberapa hari ke
depan tidak mendapatkan pasokan air, petani khawatir tanaman tersebut tidak dapat
bertahan.
“Kalau seminggu ke depan tidak teraliri air mungkin
mati,” ujar Jafar.
Kondisi itu membuat petani tidak hanya khawatir
kehilangan tanaman, tetapi juga terancam kehilangan hasil panen yang menjadi
sumber penghasilan mereka.
“Kami berharap pemerintah bisa membantu kami
menyelamatkan tanaman padi dengan bantuan air,” tuturnya.
TNI Turunkan Water Tank
Menindaklanjuti keluhan petani, Kodim 1403 Palopo bersama
pemerintah daerah menurunkan kendaraan water tank untuk memasok air ke areal
persawahan yang terdampak kekeringan.
Air didistribusikan ke sejumlah titik sawah untuk menjaga
tanaman padi tetap hidup sekaligus memberi kesempatan kepada petani
mempertahankan tanaman hingga masa panen.
Danramil 1403-06 Wara, Kapten Inf Agus Purwono,
mengatakan langkah tersebut dilakukan setelah pihaknya menerima laporan
masyarakat terkait kekeringan dan menurunnya debit air yang menjadi sumber
pengairan sawah.
“Kami setelah mendapat laporan dari masyarakat tentang
kekeringan sawah karena kekurangan debit air, kami kolaborasi dengan pemerintah
daerah untuk membantu masyarakat yang kekeringan dengan menggunakan water
tank,” kata Agus.
Menurut Agus, kendaraan yang biasanya digunakan untuk
membantu penanganan kebakaran juga dapat dimanfaatkan untuk membantu petani
ketika terjadi kekeringan ekstrem.
Agus mengatakan distribusi air tidak hanya dilakukan di
Kelurahan Takkalala. Pihaknya juga telah menerima laporan dari sejumlah
kecamatan yang membutuhkan bantuan pasokan air untuk persawahan.
“Jadi kami dari pihak TNI Kodim 1403 Palopo, khususnya
Koramil Wara dan Babinsa, berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan Gapoktan,
menyisir sawah yang kekeringan agar dalam pembagian air,” ujarnya.
Langkah tersebut dilakukan secara proaktif agar bantuan
air dapat diberikan kepada areal persawahan yang paling membutuhkan.
“Jadi kami proaktif dalam hal pembagian air. Sekaligus
bagaimana nanti ke depannya petani ini tidak gagal panen,” harap Agus.
Lebih dari 20 Hektare Sawah Terdampak
Petani sekaligus pengurus Gapoktan, Bakri Gampu, mengapresiasi
bantuan air yang diberikan TNI.
Menurut Bakri, kekeringan telah berdampak pada sebagian
besar areal persawahan di wilayah tersebut.
“Di sini perkiraan padi sawah di atas 20 hektare,
sebagian besar mengalami kekeringan,” ujar Bakri.
Ia mengatakan kehadiran TNI dan bantuan pasokan air
menjadi angin segar bagi petani yang selama beberapa pekan terakhir kesulitan
mendapatkan air.
“Saya sebagai wakil petani-petani di sini mengucapkan
terima kasih kepada Bapak-Bapak TNI yang berpartisipasi dalam mengurangi
kekeringan sawah kami,” tuturnya.
Bagi petani, air yang didistribusikan menggunakan water
tank bukan sekadar bantuan sementara. Pasokan tersebut menjadi harapan agar
tanaman padi yang sudah mengeluarkan biaya dan tenaga selama berminggu-minggu
tidak berakhir gagal panen.
Petani berharap distribusi air dapat dilakukan secara
berkelanjutan selama kondisi cuaca masih kering.
Sebab, tanpa pasokan air yang cukup, tanaman padi yang
saat ini memasuki fase pertumbuhan berisiko semakin menguning, mengering, hingga
mati.
Di tengah ancaman kekeringan tersebut, petani kini hanya
berharap satu hal: sawah mereka tetap mendapatkan air hingga tanaman dapat
dipanen.
Bagi mereka, setiap tetes air yang sampai ke persawahan
berarti menjaga peluang untuk mempertahankan hasil panen dan menghindarkan
keluarga mereka dari kerugian akibat gagal panen.

No comments:
Post a Comment