Notification

×

Iklan

INSPIRASI TIMUR INDONESIA

Iklan

Indeks Berita

Petani Palopo Terancam Gagal Panen, TNI Kodim 1403 Palopo Salurkan Air ke Sawah

Friday, 21 August 2026 | August 21, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-21T07:24:25Z

PALOPO – Kekeringan mulai mengancam tanaman padi milik petani di Kelurahan Takkalala, Kecamatan Wara Selatan, Kota Palopo, Sulawesi Selatan.


Puluhan hektare areal persawahan warga mengalami kekurangan pasokan air selama lebih dari satu bulan. Kondisi itu membuat tanaman padi yang rata-rata berusia sekitar 40 hingga 45 hari mulai menguning dan terancam mati.


Jumat (21/8/2026) siang, sebagian petak sawah bahkan mulai terlihat kering dan tanahnya retak. Petani kini berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan tanaman mereka sebelum memasuki masa panen.


Salah seorang petani, Jafar (56), mengatakan kekeringan menjadi persoalan serius karena sawah di wilayah tersebut sebagian besar hanya mengandalkan air hujan.


Selama musim kemarau, petani terpaksa memompa air dari sungai yang berjarak sekitar 100 meter dari areal persawahan.


Namun, debit air sungai yang juga terus menyusut membuat upaya tersebut semakin sulit.


“Selama musim kemarau kami mengairi sawah dengan memompa air dari sungai yang jaraknya sekitar 100 meter. Sementara di sungai sudah mulai kering juga,” kata Jafar, Jumat.


Menurut Jafar, kondisi semakin sulit karena banyak petani membutuhkan sumber air yang sama.


Akibatnya, para petani harus berebut titik untuk memasang pompa agar tanaman padi mereka tetap mendapatkan air.


“Teman-teman petani yang lain juga butuh. Jadi di sungai itu kami berebutan mengambil titik untuk memompa air,” ucapnya.


Jafar mengatakan tanaman padinya yang kini berusia sekitar 45 hari mulai menunjukkan tanda-tanda kekurangan air.


Daun tanaman mulai menguning. Jika dalam beberapa hari ke depan tidak mendapatkan pasokan air, petani khawatir tanaman tersebut tidak dapat bertahan.


“Kalau seminggu ke depan tidak teraliri air mungkin mati,” ujar Jafar.


Kondisi itu membuat petani tidak hanya khawatir kehilangan tanaman, tetapi juga terancam kehilangan hasil panen yang menjadi sumber penghasilan mereka.


“Kami berharap pemerintah bisa membantu kami menyelamatkan tanaman padi dengan bantuan air,” tuturnya.

 

TNI Turunkan Water Tank

Menindaklanjuti keluhan petani, Kodim 1403 Palopo bersama pemerintah daerah menurunkan kendaraan water tank untuk memasok air ke areal persawahan yang terdampak kekeringan.


Air didistribusikan ke sejumlah titik sawah untuk menjaga tanaman padi tetap hidup sekaligus memberi kesempatan kepada petani mempertahankan tanaman hingga masa panen.


Danramil 1403-06 Wara, Kapten Inf Agus Purwono, mengatakan langkah tersebut dilakukan setelah pihaknya menerima laporan masyarakat terkait kekeringan dan menurunnya debit air yang menjadi sumber pengairan sawah.


“Kami setelah mendapat laporan dari masyarakat tentang kekeringan sawah karena kekurangan debit air, kami kolaborasi dengan pemerintah daerah untuk membantu masyarakat yang kekeringan dengan menggunakan water tank,” kata Agus.


Menurut Agus, kendaraan yang biasanya digunakan untuk membantu penanganan kebakaran juga dapat dimanfaatkan untuk membantu petani ketika terjadi kekeringan ekstrem.


Agus mengatakan distribusi air tidak hanya dilakukan di Kelurahan Takkalala. Pihaknya juga telah menerima laporan dari sejumlah kecamatan yang membutuhkan bantuan pasokan air untuk persawahan.


“Jadi kami dari pihak TNI Kodim 1403 Palopo, khususnya Koramil Wara dan Babinsa, berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan Gapoktan, menyisir sawah yang kekeringan agar dalam pembagian air,” ujarnya.


Langkah tersebut dilakukan secara proaktif agar bantuan air dapat diberikan kepada areal persawahan yang paling membutuhkan.


“Jadi kami proaktif dalam hal pembagian air. Sekaligus bagaimana nanti ke depannya petani ini tidak gagal panen,” harap Agus.

 

Lebih dari 20 Hektare Sawah Terdampak

Petani sekaligus pengurus Gapoktan, Bakri Gampu, mengapresiasi bantuan air yang diberikan TNI.


Menurut Bakri, kekeringan telah berdampak pada sebagian besar areal persawahan di wilayah tersebut.


“Di sini perkiraan padi sawah di atas 20 hektare, sebagian besar mengalami kekeringan,” ujar Bakri.


Ia mengatakan kehadiran TNI dan bantuan pasokan air menjadi angin segar bagi petani yang selama beberapa pekan terakhir kesulitan mendapatkan air.


“Saya sebagai wakil petani-petani di sini mengucapkan terima kasih kepada Bapak-Bapak TNI yang berpartisipasi dalam mengurangi kekeringan sawah kami,” tuturnya.


Bagi petani, air yang didistribusikan menggunakan water tank bukan sekadar bantuan sementara. Pasokan tersebut menjadi harapan agar tanaman padi yang sudah mengeluarkan biaya dan tenaga selama berminggu-minggu tidak berakhir gagal panen.


Petani berharap distribusi air dapat dilakukan secara berkelanjutan selama kondisi cuaca masih kering.


Sebab, tanpa pasokan air yang cukup, tanaman padi yang saat ini memasuki fase pertumbuhan berisiko semakin menguning, mengering, hingga mati.


Di tengah ancaman kekeringan tersebut, petani kini hanya berharap satu hal: sawah mereka tetap mendapatkan air hingga tanaman dapat dipanen.


Bagi mereka, setiap tetes air yang sampai ke persawahan berarti menjaga peluang untuk mempertahankan hasil panen dan menghindarkan keluarga mereka dari kerugian akibat gagal panen.

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update