LUWU – Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, diramaikan dengan ajang Lomba Burung Berkicau Mania Kajari Luwu Cup I.
Lomba yang digelar Kejaksaan Negeri (Kejari) Luwu bersama
Komunitas Pencinta Burung Dange Rasta Belopa itu berlangsung di halaman Kantor
Kejari Luwu, Minggu (23/8/2026).
Ajang tersebut tidak hanya menjadi wadah bagi para penghobi
burung untuk menguji kualitas burung peliharaan mereka, tetapi juga menjadi
sarana mempererat silaturahmi antarkomunitas kicau mania.
Kepala Kejaksaan Negeri Luwu Muhandas Ulimen mengatakan,
kegiatan tersebut memiliki sejumlah tujuan, salah satunya memperkuat hubungan
antarpenggemar burung.
“Tujuan pertama dari kegiatan Lomba Kicau Mania Kejari Cup I
adalah meningkatkan silaturahmi antara para penggemar burung yang ada di Luwu,
khususnya di Sulawesi Selatan pada umumnya,” kata Muhandas.
Menurut dia, lomba tersebut juga diharapkan memberikan
nuansa baru bagi masyarakat sekaligus mendorong terciptanya kegiatan yang
sportif dan positif.
“Kedua, memberikan nuansa baru kepada Kabupaten Luwu agar
memberikan suasana yang baru, yang lebih sportif bagi peningkatan Kamtibmas
yang ada di Luwu,” ujarnya.
Peserta datang dari
tiga provinsi
Antusiasme peserta terlihat dari keikutsertaan kicau mania
dari berbagai daerah.
Muhandas menyebut peserta tidak hanya berasal dari Kabupaten
Luwu dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, tetapi juga datang dari Sulawesi
Barat dan Sulawesi Tengah.
“Peserta Kicau Mania ini dari seluruh Sulawesi Selatan. Ada
dari Bone, Sinjai, Toraja, Luwu Utara, Luwu Timur, dan Majene, Sulawesi Barat,
serta Morowali, Sulawesi Tengah,” kata dia.
Sebanyak 34 kelas dan kategori dipertandingkan dalam lomba
tersebut.
Sejumlah jenis burung yang dilombakan antara lain Kenari,
Murai Batu, LB Fighter, Cucak Ijo, Rio-Rio, LB Paud, Murai Muda, Sogon, Gambas,
hingga Pleci Lokal.
Muhandas berharap seluruh peserta menjaga sportivitas selama
mengikuti perlombaan.
“Pesan saya kepada pecinta burung supaya lomba ini
dilaksanakan dengan sportif. Lomba ini bertujuan untuk meningkatkan silaturahmi
antara penggemar burung serta untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Luwu,”
tuturnya.
Peserta membeludak
Ketua Lomba Kicau Mania Kajari Luwu Cup I, Jaya Lobo,
mengatakan jumlah peserta di luar perkiraan panitia.
“Alhamdulillah pesertanya membeludak. Ada dari Makassar,
bahkan ada dari Morowali,” kata Jaya.
Menurut dia, antusiasme peserta dari luar daerah menunjukkan
bahwa lomba tersebut berhasil menjadi ruang pertemuan bagi komunitas penghobi
burung dari berbagai daerah.
Salah satu peserta dari Morowali bahkan datang menggunakan
sepeda motor sambil membawa burung Murai Batu miliknya.
“Yang dari Morowali ini saking antusiasnya naik motor
sendiri, bawa burung Murai. Ini yang membuat kita tergugah bahwa benar-benar Lomba
Kicau Mania Kejari Luwu ini menjadi ajang silaturahmi,” ujarnya.
Jaya juga menilai lokasi perlombaan cukup mendukung karena
berada di kawasan yang banyak pepohonan.
Selain itu, keberadaan pelaku UMKM di sekitar lokasi membuat
peserta dan pengunjung tidak perlu meninggalkan area perlombaan untuk mencari
makanan.
“Di lokasi lomba ini tempatnya nyaman, banyak pohon, ada
UMKM. Jadi kita tidak keluar dari lokasi untuk mencari makanan,” katanya.
Kegiatan lomba burung berkicau ini sekaligus menandai kembali
bergeliatnya kompetisi kicau mania di wilayah Luwu setelah beberapa tahun tidak
digelar.
Dalam lomba tersebut, para penghobi menguji kualitas burung
jagoan mereka berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari suara, durasi kerja, gaya,
hingga kondisi fisik burung saat berada di atas gantangan.
Salah satu peserta yang berhasil meraih juara adalah Ogy
dari klub Mesaka Palopo. Ia meraih juara pertama pada kelas Murai Batu.
Ogy mengatakan, Murai Batu yang dibawanya telah dirawat selama
kurang lebih tiga tahun dan beberapa kali berhasil meraih prestasi.
“Murai Batu ini sudah kurang lebih tiga tahunan.
Alhamdulillah sudah beberapa kali terbaik,” kata Ogy.
Menurut dia, keberhasilan merawat burung hingga mampu tampil
maksimal dalam perlombaan membutuhkan konsistensi dan kedekatan antara burung
dengan perawatnya.
“Memelihara burung seperti ini tergantung dari perawatan.
Semua burung kalau sudah satu hati dengan perawatnya, mungkin sudah cocok,”
ujarnya.
Ia menyebut perawatan Murai Batu miliknya dilakukan secara
rutin. Salah satunya dengan melakukan sauna dua kali dalam sepekan.
Untuk kebutuhan pakan, burung tersebut menghabiskan sekitar
satu kilogram jangkrik dalam sepekan.
Meski belum pernah menjadi juara tingkat nasional, Ogy
optimistis prestasi tersebut dapat menjadi pijakan untuk mengikuti kompetisi
yang lebih besar.
“Kalau burung ini memang belum juara secara nasional, tapi
Insya Allah nanti ke depannya. Kalau tadi sempat dapat juara satu, saya sangat
bangga dan senang,” katanya.
Ia berharap kegiatan lomba burung berkicau di Luwu dapat
digelar secara berkelanjutan sehingga semakin banyak penghobi dan komunitas
lokal yang berkembang.
“Harapan saya ke depan semoga selalu stabil, jangan sampai
di sini saja, sampai seterusnya supaya bisa berkembang. Untuk wilayah Belopa
dan Luwu, para perawat burung tolong bangkit lagi,” tuturnya.

No comments:
Post a Comment