Notification

×

Iklan

INSPIRASI TIMUR INDONESIA

Iklan

Indeks Berita

Lomba Burung Berkicau Kajari Luwu Cup I Diikuti Peserta dari 3 Provinsi

Sunday, 23 August 2026 | August 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-23T10:56:45Z

LUWU – Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, diramaikan dengan ajang Lomba Burung Berkicau Mania Kajari Luwu Cup I.



Lomba yang digelar Kejaksaan Negeri (Kejari) Luwu bersama Komunitas Pencinta Burung Dange Rasta Belopa itu berlangsung di halaman Kantor Kejari Luwu, Minggu (23/8/2026).

 

Ajang tersebut tidak hanya menjadi wadah bagi para penghobi burung untuk menguji kualitas burung peliharaan mereka, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarkomunitas kicau mania.

 

Kepala Kejaksaan Negeri Luwu Muhandas Ulimen mengatakan, kegiatan tersebut memiliki sejumlah tujuan, salah satunya memperkuat hubungan antarpenggemar burung.

 

“Tujuan pertama dari kegiatan Lomba Kicau Mania Kejari Cup I adalah meningkatkan silaturahmi antara para penggemar burung yang ada di Luwu, khususnya di Sulawesi Selatan pada umumnya,” kata Muhandas.

 

Menurut dia, lomba tersebut juga diharapkan memberikan nuansa baru bagi masyarakat sekaligus mendorong terciptanya kegiatan yang sportif dan positif.

 

“Kedua, memberikan nuansa baru kepada Kabupaten Luwu agar memberikan suasana yang baru, yang lebih sportif bagi peningkatan Kamtibmas yang ada di Luwu,” ujarnya.

 

Peserta datang dari tiga provinsi

Antusiasme peserta terlihat dari keikutsertaan kicau mania dari berbagai daerah.

 

Muhandas menyebut peserta tidak hanya berasal dari Kabupaten Luwu dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, tetapi juga datang dari Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah.

 

“Peserta Kicau Mania ini dari seluruh Sulawesi Selatan. Ada dari Bone, Sinjai, Toraja, Luwu Utara, Luwu Timur, dan Majene, Sulawesi Barat, serta Morowali, Sulawesi Tengah,” kata dia.

 

Sebanyak 34 kelas dan kategori dipertandingkan dalam lomba tersebut.

Sejumlah jenis burung yang dilombakan antara lain Kenari, Murai Batu, LB Fighter, Cucak Ijo, Rio-Rio, LB Paud, Murai Muda, Sogon, Gambas, hingga Pleci Lokal.

 

Muhandas berharap seluruh peserta menjaga sportivitas selama mengikuti perlombaan.

 

“Pesan saya kepada pecinta burung supaya lomba ini dilaksanakan dengan sportif. Lomba ini bertujuan untuk meningkatkan silaturahmi antara penggemar burung serta untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Luwu,” tuturnya.

 

Peserta membeludak

Ketua Lomba Kicau Mania Kajari Luwu Cup I, Jaya Lobo, mengatakan jumlah peserta di luar perkiraan panitia.

 

“Alhamdulillah pesertanya membeludak. Ada dari Makassar, bahkan ada dari Morowali,” kata Jaya.

 

Menurut dia, antusiasme peserta dari luar daerah menunjukkan bahwa lomba tersebut berhasil menjadi ruang pertemuan bagi komunitas penghobi burung dari berbagai daerah.

 

Salah satu peserta dari Morowali bahkan datang menggunakan sepeda motor sambil membawa burung Murai Batu miliknya.

 

“Yang dari Morowali ini saking antusiasnya naik motor sendiri, bawa burung Murai. Ini yang membuat kita tergugah bahwa benar-benar Lomba Kicau Mania Kejari Luwu ini menjadi ajang silaturahmi,” ujarnya.

 

Jaya juga menilai lokasi perlombaan cukup mendukung karena berada di kawasan yang banyak pepohonan.

 

Selain itu, keberadaan pelaku UMKM di sekitar lokasi membuat peserta dan pengunjung tidak perlu meninggalkan area perlombaan untuk mencari makanan.

 

“Di lokasi lomba ini tempatnya nyaman, banyak pohon, ada UMKM. Jadi kita tidak keluar dari lokasi untuk mencari makanan,” katanya.

 

Kegiatan lomba burung berkicau ini sekaligus menandai kembali bergeliatnya kompetisi kicau mania di wilayah Luwu setelah beberapa tahun tidak digelar.

 

Dalam lomba tersebut, para penghobi menguji kualitas burung jagoan mereka berdasarkan sejumlah aspek, mulai dari suara, durasi kerja, gaya, hingga kondisi fisik burung saat berada di atas gantangan.

 

Salah satu peserta yang berhasil meraih juara adalah Ogy dari klub Mesaka Palopo. Ia meraih juara pertama pada kelas Murai Batu.

 

Ogy mengatakan, Murai Batu yang dibawanya telah dirawat selama kurang lebih tiga tahun dan beberapa kali berhasil meraih prestasi.

 

“Murai Batu ini sudah kurang lebih tiga tahunan. Alhamdulillah sudah beberapa kali terbaik,” kata Ogy.

 

Menurut dia, keberhasilan merawat burung hingga mampu tampil maksimal dalam perlombaan membutuhkan konsistensi dan kedekatan antara burung dengan perawatnya.

 

“Memelihara burung seperti ini tergantung dari perawatan. Semua burung kalau sudah satu hati dengan perawatnya, mungkin sudah cocok,” ujarnya.

 

Ia menyebut perawatan Murai Batu miliknya dilakukan secara rutin. Salah satunya dengan melakukan sauna dua kali dalam sepekan.

 

Untuk kebutuhan pakan, burung tersebut menghabiskan sekitar satu kilogram jangkrik dalam sepekan.

 

Meski belum pernah menjadi juara tingkat nasional, Ogy optimistis prestasi tersebut dapat menjadi pijakan untuk mengikuti kompetisi yang lebih besar.

 

“Kalau burung ini memang belum juara secara nasional, tapi Insya Allah nanti ke depannya. Kalau tadi sempat dapat juara satu, saya sangat bangga dan senang,” katanya.

 

Ia berharap kegiatan lomba burung berkicau di Luwu dapat digelar secara berkelanjutan sehingga semakin banyak penghobi dan komunitas lokal yang berkembang.

 

“Harapan saya ke depan semoga selalu stabil, jangan sampai di sini saja, sampai seterusnya supaya bisa berkembang. Untuk wilayah Belopa dan Luwu, para perawat burung tolong bangkit lagi,” tuturnya.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update