Notification

×

Iklan

INSPIRASI TIMUR INDONESIA

Iklan

Indeks Berita

Produksi Naik 19%, Laba Bersih PT Vale Melonjak 39% pada Kuartal II 2026

| July 29, 2026 WIB | 0 Views

JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan kinerja operasional dan keuangan yang lebih baik pada kuartal II 2026. Peningkatan produksi nikel, membaiknya harga jual, serta efisiensi operasional mendorong kenaikan laba bersih perseroan di tengah ekspansi bisnis yang terus berjalan.

Berdasarkan laporan kinerja yang dirilis Rabu (29/7), PT Vale memproduksi 16.153 metrik ton nikel dalam matte sepanjang kuartal II 2026. Angka tersebut meningkat sekitar 19% dibandingkan produksi kuartal I 2026 yang mencapai 13.620 ton.


Dengan capaian tersebut, total produksi nikel dalam matte selama semester I 2026 mencapai 29.773 ton. Perseroan menyebut peningkatan produksi ditopang oleh selesainya proyek pembangunan kembali Tanur Listrik 3 pada Juni 2026, sehingga kapasitas operasi kembali meningkat.


Selain bisnis nikel matte, PT Vale juga memperkuat sumber pendapatan melalui pengoperasian tiga hub pertambangan di Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.


Di Blok Bahodopi, penjualan bijih nikel saprolit mencapai 1,07 juta wet metric ton (wmt) pada kuartal II 2026, meningkat dibandingkan 886 ribu wmt pada kuartal sebelumnya. Secara kumulatif, penjualan semester I mencapai 1,96 juta wmt.


Sementara itu, Blok Pomalaa mencatat lonjakan penjualan 495.601 wet metric ton (wmt) pada 2T26, sehingga volume penjualan kumulatif sepanjang semester pertama 2026 mencapai 584.584 wmt.

Kinerja operasional yang lebih baik turut berdampak pada pendapatan perusahaan. PT Vale membukukan pendapatan sebesar US$ 290 juta pada kuartal II 2026, meningkat sekitar 15% dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar US$ 253 juta.


Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya harga realisasi rata-rata nikel matte menjadi US$ 14.765 per ton, naik sekitar 4% dibandingkan kuartal I 2026.


Dari sisi profitabilitas, EBITDA PT Vale melonjak 45% menjadi US$ 116 juta, sementara laba bersih mencapai US$ 61 juta, meningkat 39% dibandingkan laba kuartal sebelumnya sebesar US$ 44 juta.


Perseroan juga berhasil menjaga efisiensi biaya. Biaya tunai pokok penjualan nikel matte turun menjadi US$ 10.005 per ton dari sebelumnya US$ 10.382 per ton. Pada bisnis bijih nikel, biaya tunai tetap kompetitif yakni sekitar US$ 21 per ton di Bahodopi dan US$ 7 per ton di Pomalaa.


Meski demikian, PT Vale menghadapi tantangan berupa kenaikan harga energi global. Harga rata-rata HSFO, diesel, dan batu bara masing-masing meningkat sekitar 25%, 40%, dan 12% dibandingkan kuartal sebelumnya akibat dinamika geopolitik dunia.


Di sisi investasi, PT Vale merealisasikan belanja modal sekitar US$ 116 juta sepanjang kuartal II 2026 untuk mendukung keberlanjutan operasi sekaligus pengembangan proyek-proyek strategis. Saldo kas dan setara kas pada akhir Juni 2026 tercatat sebesar US$ 111 juta, turun dari US$ 220 juta pada akhir Maret 2026 seiring tingginya aktivitas investasi.


Presiden Direktur dan Chief Executive Officer PT Vale, Bernardus Irmanto, mengatakan perseroan terus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang melalui pengembangan proyek hilirisasi nikel.


Menurutnya, kedatangan autoclave untuk Proyek HPAL Sambalagi di Indonesia Growth Project (IGP) Morowali menjadi tonggak penting dalam pembangunan rantai pasok bahan baku baterai kendaraan listrik di Indonesia.


"Kedatangan autoclave tersebut merupakan langkah maju yang signifikan dalam pengembangan rantai nilai bahan baku baterai terintegrasi di Indonesia serta memperkuat komitmen PT Vale untuk mendukung agenda hilirisasi nasional," ujar Bernardus.


Ke depan, PT Vale menyatakan akan terus mempercepat pengembangan proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk mengolah bijih limonit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), yang merupakan bahan antara penting dalam industri baterai kendaraan listrik global.


Dengan peningkatan produksi, diversifikasi sumber pendapatan, serta percepatan proyek hilirisasi, PT Vale optimistis tetap berada pada jalur yang tepat untuk mencapai target produksi tahun 2026 sekaligus memperkuat pertumbuhan jangka panjang di tengah dinamika pasar nikel global.

×
Berita Terbaru Update