Pertumbuhan Ekonomi Luwu 7,43 Persen, Bupati Patahudding Paparkan Strategi Pertanian dan Kakao saat Live di KompasTV

LUWU – Pemerintah Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, mencatat pertumbuhan ekonomi signifikan sepanjang 2025 yang ditopang sektor pertanian dan perkebunan, khususnya komoditas padi sawah dan kakao. Capaian ini menjadi perhatian pemerintah pusat dan daerah dalam mendorong peningkatan kesejahteraan petani.

 

Sumber : Tangkapan Layar Kaca KompasTv

Bupati Luwu, Patahudding, dalam siaran langsung program Jurnal Nusantara di KompasTV yang dipandu Claudia Carla, memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi Luwu pada 2025 mencapai 7,43 persen. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 4,36 persen.

 

Menurut Patahudding, sektor pertanian menjadi motor utama pertumbuhan, terutama melalui peningkatan produksi padi sawah. Hal ini didorong oleh perbaikan infrastruktur irigasi serta optimalisasi indeks pertanaman (IP).

 

“Indeks pertanaman kita tingkatkan dari IP 1,8 menjadi IP 2,2, bahkan target kami pada 2027 mencapai IP 2,5,” kata Patahudding dalam live kompastv, Kamis (9/4/2026) pagi.

 

Patahudding, menjelaskan peningkatan tersebut ditopang program mandiri benih yang menjadi solusi atas persoalan klasik petani di Luwu, yakni keterbatasan bibit berkualitas. Pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah demplot benih bersertifikat dengan varietas yang disesuaikan kondisi tanah dan ketersediaan air.

 

Selain itu, Pemkab Luwu juga mengembangkan sistem irigasi pompa (irpon) untuk mengatasi keterbatasan jaringan irigasi di sejumlah wilayah. Langkah ini memungkinkan lahan yang sebelumnya tidak tergarap kini dapat dimanfaatkan secara optimal.

 

Di sisi lain, pemerintah daerah turut memperkuat peran generasi muda melalui pembentukan Brigade Pangan Pertanian Milenial. Hingga kini, lebih dari 100 brigade telah dibentuk dengan melibatkan anak-anak muda sebagai pengelola utama sektor pertanian dan perkebunan.

 


Setiap brigade mengelola lahan seluas 150 hingga 200 hektare dengan anggota sekitar 15 orang. Mereka juga difasilitasi berbagai alat dan mesin pertanian (alsintan), termasuk teknologi modern seperti drone untuk mendukung efisiensi produksi.

 

“Semua proses mulai dari penyemprotan hingga panen dikelola oleh Brigade Pangan Petani Milenial,” ucapnya.

 

Tak hanya fokus pada tanaman pangan, Pemkab Luwu juga mengembangkan sektor perkebunan, khususnya komoditas kakao yang menjadi andalan daerah. Pemerintah daerah mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian berupa bantuan bibit kakao untuk pengembangan lahan seluas 8.000 hektare atau sekitar 8 juta pohon.

 

Patahudding menyebut, program tersebut merupakan bagian dari kebijakan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

 

“Bantuan ini menjawab keluhan petani selama ini terkait kekurangan bibit. Kami optimistis dalam dua tahun ke depan sudah mulai berproduksi,” ujarnya.

 

Patahudding juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas dukungan tersebut.

 

“Oleh karena itu, kami mewakili masyarakat Kabupaten Luwu untuk mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden karena bantuan melalui Kementerian Pertanian ini. Bibit yang selama ini menjadi keluhan petani kini mulai teratasi. Apalagi di Kabupaten Luwu juga tersedia sumber benih dan entres yang bersertifikasi. Oleh karena itu, mudah-mudahan pada tahun 2028, kakao yang menjadi komoditas andalan Kabupaten Luwu bisa kembali seperti kejayaannya pada tahun-tahun 1998,” tutur Patahudding.

 

Pemkab Luwu juga menargetkan pengembangan kakao secara besar-besaran dalam jangka panjang. Selama 2025, pemerintah daerah telah menyalurkan sekitar 200.000 bibit kakao kepada petani, dengan target total mencapai 10 juta bibit atau setara 10.000 hektare selama masa kepemimpinan.

 

Selain peningkatan produksi, kualitas kakao juga menjadi perhatian utama. Pemerintah mendorong petani menerapkan proses fermentasi pascapanen agar kualitas biji kakao meningkat dan memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar.

 

Untuk menjaga stabilitas pendapatan petani selama masa tunggu panen kakao, petani juga didorong menanam jagung sebagai tanaman sela.

 

Dalam mendukung ekosistem pertanian yang berkelanjutan, Pemkab Luwu membentuk tim terpadu lintas organisasi perangkat daerah (OPD) yang bertugas mendampingi petani mulai dari tahap penanaman hingga hilirisasi.

 

“Pendampingan dilakukan dari hulu sampai hilir, termasuk edukasi pascapanen agar kakao difermentasi dengan baik sehingga kualitas dan harga tetap terjaga,” jelasnya.

 

Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa minat investor terhadap komoditas kakao Luwu terus meningkat. Sejumlah investor telah menyatakan kesiapan untuk masuk dan membeli langsung hasil panen petani.

 

Pemkab Luwu bahkan menargetkan pembangunan pabrik pengolahan kakao di daerah tersebut sebagai bagian dari strategi hilirisasi, sehingga nilai tambah produk dapat dinikmati langsung oleh masyarakat.

 

Patahudding optimistis, dengan berbagai program yang dijalankan, kejayaan kakao Luwu seperti pada era 1990-an dapat kembali terulang.

 

“Mudah-mudahan pada 2028, kakao kembali menjadi komoditas unggulan yang mampu menyejahterakan masyarakat Kabupaten Luwu,” terangnya.

Previous Post Next Post