PALOPO – Menjaga
kesehatan selama bulan suci Ramadhan menjadi kebutuhan penting bagi umat Muslim
yang menjalankan ibadah puasa. Perubahan pola makan, jam tidur, hingga
intensitas aktivitas harian kerap memengaruhi kondisi fisik. Tak sedikit warga
yang mencari cara agar tubuh tetap bugar, salah satunya dengan mendatangi
tempat pijat refleksi yang dinilai nyaman untuk memulihkan stamina.
Di Kota Palopo, Sulawesi
Selatan, praktik pijat refleksi tetap ramai dikunjungi warga yang ingin menjaga
kebugaran di tengah aktivitas puasa. Bagi sebagian orang, terapi pijat bukan
sekadar relaksasi, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan agar ibadah tetap
berjalan optimal.
Salah satunya Alfian, seorang
karyawan yang baru pulang kampung dari Papua. Ia menyempatkan diri menjalani
terapi refleksi karena sejumlah keluhan fisik yang dirasakannya.
“Saya ke sini dengan kondisi
sering keram-keram. Tulang belakang saya pernah divonis saraf kejepit, di
tangan juga kebas. Tapi alhamdulillah tadi diterapi sama Pak Mukmin sudah
langsung hilang. Kaki saya juga setelah diterapi hilang,” kata Alfian, usai menjalani terapi, Kamis (5/3/2026).
Menurut Alfian, aktivitas selama Ramadhan cukup
berdampak pada kondisi fisiknya. Perubahan pola makan dan jam istirahat membuat
tubuhnya lebih mudah lelah. Karena itu, terapi refleksi menjadi salah satu cara
yang ia pilih untuk memulihkan stamina.
Alfian mengaku suasana terapi
yang santai membuatnya lebih rileks. Ia mengatakan, candaan yang dilontarkan
terapis membuat rasa tegang berkurang.
“Biasanya orang kalau
diterapi dan merasa sakit jadi minder. Tapi kalau caranya seperti ini, sakit
terasa di awal, tapi setelah itu nyaman. Jadi agak enjoy juga, seakan-akan
diajak bermain sambil terapi,” ucapnya.
Animo
Tinggi di Bulan Puasa
Terapis refleksi Mukmin mengatakan, minat masyarakat untuk menjalani terapi selama Ramadhan tetap tinggi. Ia membuka praktik di Palopo dan rata-rata melayani 10 pasien per hari, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 Wita.
“Minat masyarakat tetap tinggi karena mereka punya keluhan sakit yang berharap segera sembuh. Bahkan ada pasien yang datang dari luar negeri, seperti Malaysia. Mungkin momentumnya luar biasa, di bulan puasa ini harapan untuk sembuh lebih besar,” ujar Mukmin.
Mukmin menuturkan,
selama Ramadhan tetap menjalankan ibadah puasa sembari melayani pasien.
Baginya, puasa justru menjadi penguat niat dan energi dalam bekerja.
“Dengan puasa semoga saya
melayani orang semakin kuat dan semakin berkah,” tuturnya.
Menjaga
Stamina Saat Berpuasa
Mukmin menyadari, bekerja
sebagai terapis membutuhkan stamina yang prima. Karena itu, ia menjaga pola
makan saat sahur dengan mengonsumsi buah dan makanan alami, serta memperbanyak
minum air putih. Ia menghindari makanan instan dan olahan kemasan.
Sementara bagi pasien,
menurut dia, kondisi kesehatan tetap menjadi pertimbangan dalam menjalankan
puasa. Ia juga menerima pasien non-muslim yang tidak berpuasa dan datang dari
berbagai daerah, termasuk Toraja.
“Kita harus menghargai
toleransi. Ada pasien non-muslim datang dari jauh dan tidak berpuasa. Kalau
mereka tidak sempat makan, dengan niat sedekah kami berikan sekadar minum atau
makan. Apa yang saya lakukan ini untuk semua umat, semua golongan,” ujar Mukmin.
Terapi
Fisik dan Psikis
Bagi Mukmin, terapi refleksi
bukan hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga psikis. Ia berusaha menghadirkan
suasana yang menyenangkan agar pasien merasa terhibur.
“Banyak orang yang sudah
merasa penyakitnya paling berat di dunia. Disaat itulah saya mencoba menghibur
mereka dengan candaan ringan. Minimal ada kesan mereka datang terhibur. Kalau
hati terhibur, rasa sakit saat terapi pun bisa berkurang,” jelasnya.
Mukmin menilai,
Ramadhan justru menjadi waktu yang produktif. Tanpa harus memikirkan sarapan
atau minum kopi di pagi hari, ia bisa berangkat lebih awal dari rumahnya di
wilayah Kelurahan Balandai Kota
Palopo, sekitar 4
kilometer dari lokasi praktik.
“Kalau kita bisa memanage
waktu, di bulan Ramadhan ini justru bisa lebih produktif,” tuturnya.
Cita-cita
Mendunia
Mukmin mengaku telah menekuni
profesi terapis refleksi selama bertahun-tahun. Melalui media sosial, ia memiliki
jutaan pengikut di berbagai platform. Ia berharap metode terapi yang
dipraktikkannya dapat dikenal lebih luas.
“Saya punya visi, metoda yang
saya praktikkan ini dikenal dunia. Bukan hanya kabupaten atau provinsi. Kedepan
saya ingin membuat pelatihan untuk kesinambungan metoda ini,” harapnya.
Mukmin juga berharap
ada dukungan pemerintah untuk menghadirkan pelatihan berlisensi sehingga dapat
mencetak terapis profesional dan membuka lapangan kerja.
“Tidak menutup kemungkinan saya bisa menciptakan lapangan kerja dengan
mencetak terapis refleksi yang bisa dikirim ke seluruh dunia,” terangnya.
Selain pelatihan, Mukmin
berkeinginan membukukan metode terapinya. Namun hingga kini ia masih mencari
pendamping penulis untuk mewujudkan rencana tersebut, termasuk menjajaki
komunikasi dengan perguruan tinggi di Palopo.
“Kalau di kendari
beberapa waktu lalu ada
yang bersedia, cuman kendala waktu dan jarak susah kami atur, karena sudah ada
profesor yang mau menjadi pembimbing di bukunya dan penanggung jawab, insya
Allah saya tetap akan buat buku,” imbuhnya.
Di tengah suasana Ramadhan
yang sarat makna spiritual, praktik refleksi di sudut Kota Palopo itu menjadi
gambaran bagaimana ikhtiar menjaga kesehatan berjalan beriringan dengan
semangat berbagi dan toleransi. Bagi sebagian warga, memulihkan kebugaran bukan
sekadar soal fisik, tetapi juga menata ulang semangat di bulan penuh berkah.
