Nasib Kru Tugboat Musaffah II Belum Jelas, Keluarga di Luwu Masih Menunggu Kabar

LUWU – Enam hari setelah dilaporkan mengalami insiden ledakan saat berlayar menuju Selat Hormuz pada Jumat (6/3/2026), nasib kru kapal tugboat Musaffah II hingga kini belum diketahui secara pasti.



Minimnya informasi yang kredibel membuat keluarga Kapten Miswar Paturusi dan Chief Engineer (CE) Sirajuddin masih diliputi kecemasan. Kedua keluarga terus menanti kabar dari pihak berwenang mengenai kondisi para kru kapal tersebut.


Di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, suasana harap dan cemas masih menyelimuti rumah keluarga kedua pelaut itu. Istri Kapten Miswar dan istri CE Sirajuddin tetap menunggu perkembangan informasi sambil berharap ada kabar baik dari proses pencarian yang masih berlangsung.



Dewan Pimpinan Pusat Corps Alumni Bumi Seram Makassar (DPP CABM) juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang menimpa Kapten Miswar Paturusi (50).


Kapten Miswar diketahui merupakan alumni angkatan ke-15 sekolah pelayaran yang kini dikenal sebagai Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar.


Ketua Umum DPP CABM periode 2022–2027, Capt Agus Salim, mengatakan pihaknya langsung melakukan koordinasi setelah menerima informasi awal terkait insiden tersebut.


“Konfirmasi dari KBRI Muscat, Oman. Sampai hari ini pencarian masih dilakukan, namun hingga saat ini belum ada info adanya korban hilang yang ditemukan,” kata Agus saat dikonfirmasi, Rabu (11/3/2026) sore.


Menurut Agus, pihaknya juga terus menjalin komunikasi dengan perusahaan tempat Kapten Miswar bekerja di Abu Dhabi guna memperoleh perkembangan terbaru.


“So far lancar, tiap hari komunikasi. Hanya saja memang belum ada updatenya,” ucapnya.


Agus menjelaskan hingga kini kru kapal maupun badan kapal tugboat Musaffah II belum ditemukan oleh otoritas terkait yang melakukan pencarian.


“Sampai sekarang foto kapalnya juga pun belum update,” ujarnya.


Agus menegaskan, organisasi alumni akan terus memantau perkembangan penanganan insiden tersebut serta memberikan dukungan moral kepada keluarga Kapten Miswar maupun CE Sirajuddin.


Menurut Agus, DPP CABM berkomitmen mengawal proses komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan agar informasi yang diterima keluarga dan publik tetap transparan serta dapat dipertanggungjawabkan.


“Kami berkomitmen memberikan dukungan moral dan pendampingan yang diperlukan kepada keluarga,” tuturnya.


Agus menambahkan, koordinasi dengan otoritas Indonesia di luar negeri juga terus dilakukan, termasuk pemantauan terhadap kru kapal asal Indonesia yang terlibat dalam pelayaran tersebut.


“KBRI Muscat juga sudah melakukan koordinasi dan monitoring kepada semua kru Indonesia yang terlibat,” imbuhnya.


Di tengah tingginya perhatian publik terhadap kasus ini, DPP CABM juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.


Agus meminta semua pihak menunggu keterangan resmi dari keluarga, perusahaan, maupun otoritas yang berwenang.


“Kami mengimbau agar masyarakat menunggu informasi resmi dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” terangnya.


Ia juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah memberikan perhatian dan doa bagi keselamatan Kapten Miswar dan para kru kapal.


“Kami mengapresiasi seluruh pihak yang telah memberikan dukungan moral dan doa bagi keselamatan serta ketabahan keluarga Capt Miswar,” jelasnya.


Sementara itu, di Kediaman istri Kapten Miswar, Marliani Ahmad di Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang Selatan, Kabupaten Luwu,, masih berusaha tegar menunggu kabar tentang suaminya. Ia mengaku terus mengikuti perkembangan informasi sambil berharap ada kabar baik dari proses pencarian.


Hal serupa juga dirasakan Sri Dewi, istri Chief Engineer Sirajuddin. Meski diliputi kecemasan, ia tetap berusaha kuat demi keluarga sambil menanti kepastian mengenai nasib suaminya.


Kedua keluarga berharap proses pencarian segera membuahkan hasil sehingga mereka mendapatkan kepastian mengenai kondisi para kru kapal Musaffah II yang terlibat dalam insiden tersebut.


Previous Post Next Post