Jelang Pencairan THR, VIDA Ingatkan Masyarakat Waspada Penipuan Digital

JAKARTA – Menjelang pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) Idul Fitri, risiko penipuan digital atau scam meningkat seiring melonjaknya aktivitas transaksi masyarakat di ruang digital.


Melihat kondisi tersebut, perusahaan penyedia solusi identitas digital dan pencegahan penipuan, VIDA, meluncurkan kampanye edukasi bertajuk “Jangan Asal Klik” untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai modus penipuan daring.


Kampanye tersebut diluncurkan di Jakarta pada Selasa (10/3) dan dihadiri Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI Teguh Afriyadi, Chief Operating Officer VIDA Victor Indajang, serta Director of Public Affairs VIDA Chaerany Putri.


Selain kampanye edukasi, VIDA juga merilis whitepaper bertajuk “VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook” yang mengulas tren penipuan digital di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.


Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Komdigi RI, Teguh Afriyadi, mengungkapkan bahwa tren penipuan digital sering meningkat pada momentum tertentu, termasuk saat menjelang hari besar keagamaan.


“Setidaknya ada sekitar 1.700 laporan terkait scam setiap hari. Polanya meningkat dan sangat bergantung momentum—biasanya menjelang Lebaran, Natal, dan libur sekolah,” kata Teguh.


Menurut dia, salah satu faktor yang memicu tingginya kasus penipuan adalah kebiasaan masyarakat yang terlalu cepat mempercayai informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.


Data dari CekRekening.id menunjukkan bahwa sepanjang 2017 hingga 31 Oktober 2025 terdapat ratusan ribu laporan terkait nomor rekening bank maupun e-wallet yang diduga terlibat dalam penipuan.


Sebanyak 396.691 laporan penipuan terjadi melalui aplikasi pesan, sementara 281.050 laporan lainnya terjadi melalui media sosial.


Temuan tersebut menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber memanfaatkan platform komunikasi yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.


Chief Operating Officer VIDA, Victor Indajang, mengatakan bahwa penipuan digital saat ini tidak lagi dilakukan secara individual, melainkan semakin terorganisir dan berkembang layaknya sebuah industri.


Karena itu, menurutnya, langkah perlindungan paling penting tetap dimulai dari kesadaran pengguna.


“Jangan mudah tergiur, jangan terburu-buru saat menerima pesan atau dokumen, dan biasakan berhenti sejenak untuk memverifikasi sebelum bertindak,” ujarnya.


VIDA juga mengingatkan bahwa pada periode pencairan THR, satu tautan palsu yang tampak meyakinkan dapat memicu pencurian data atau pengambilalihan akun dalam waktu singkat.


Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kerugian masyarakat akibat penipuan digital mencapai sekitar Rp9,1 triliun dari lebih dari 400 ribu laporan sepanjang November 2024 hingga akhir 2025.


Modus yang digunakan pun beragam, mulai dari phishing, investasi bodong, hingga penyalahgunaan dokumen digital yang tampak resmi.


Melalui kampanye “Jangan Asal Klik”, VIDA mengajak masyarakat untuk membangun kebiasaan digital yang lebih aman, di antaranya tidak mengklik tautan dari pesan tidak dikenal, tidak membagikan kode OTP atau PIN kepada siapa pun, serta selalu memverifikasi setiap permintaan transfer dana.


VIDA menilai kebiasaan sederhana seperti berhenti sejenak, memeriksa sumber informasi, dan melakukan verifikasi dapat menjadi langkah penting dalam mencegah masyarakat menjadi korban penipuan digital.

Previous Post Next Post