LUWU TIMUR – Ketua Komisi II DPRD Luwu Timur, Sukasman, menyebut Kabupaten Luwu Timur akhirnya masuk dalam daftar daerah penerima program pembangunan 100 gudang yang dicanangkan Perum Bulog pada 2026.
Menurut Sukasman, keputusan tersebut tidak lepas dari upaya DPRD Luwu Timur yang sebelumnya melakukan pertemuan dengan pihak Bulog di Jakarta.
“Belum lama ini saya dan teman-teman bertemu Bulog di Jakarta. Kami meminta agar Luwu Timur dimasukkan sebagai salah satu dari 100 daerah penerima program pembangunan gudang. Awalnya disampaikan kuotanya sudah penuh, tetapi kami tetap meminta agar Luwu Timur dipertimbangkan,” kata Sukasman, Jumat (27/2/2026).
Ia menjelaskan, pihaknya menilai Luwu Timur layak masuk program tersebut karena memiliki lahan pertanian yang luas serta kesiapan lahan untuk pembangunan gudang.
“Kami sampaikan bahwa lahan pertanian di Luwu Timur sangat luas dan lahan untuk pembangunan gudang juga sudah tersedia. Siapa tahu dari 100 daerah itu ada yang belum siap lahannya, maka bisa dialihkan ke Luwu Timur. Alhamdulillah, terakhir kami diinformasikan bahwa Bulog mengabulkan dan Luwu Timur masuk dalam program tersebut,” ujarnya.
Sukasman yang juga politisi PDI Perjuangan itu mengungkapkan, terdapat dua lokasi yang telah disiapkan pemerintah daerah untuk pembangunan gudang gabah, yakni di Desa Pasi-Pasi, Kecamatan Malili, serta di Balai Kembang, Kecamatan Mangkutana.
Menurut dia, kedua lokasi tersebut dinilai layak dan relatif aman dari risiko banjir. Meski demikian, penentuan akhir tetap menunggu hasil survei tim dari Bulog.
“Meski kami sudah menyiapkan dua titik, tetap akan ada tim dari Bulog yang melakukan survei untuk memastikan kelayakannya,” kata Sukasman.
Sebagai informasi, Bulog berencana membangun 100 gudang baru dengan total anggaran sekitar Rp5 triliun pada 2026. Pembangunan itu ditujukan untuk memperkuat cadangan beras pemerintah serta mengantisipasi lonjakan produksi saat panen raya.
Program tersebut mencakup pembangunan fasilitas penyimpanan modern, seperti silo dan pengering, di sentra produksi padi maupun wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Targetnya, gudang-gudang tersebut sudah dapat beroperasi sebelum panen raya 2026 guna menyerap hasil panen petani secara optimal.
Sukasman menilai, kehadiran gudang baru di Luwu Timur sangat mendesak. Saat ini, daerah tersebut masih kekurangan fasilitas penyimpanan gabah yang memadai, sehingga daya tampung hasil panen terbatas.
“Kondisi kita memang masih kekurangan gudang gabah. Akibatnya, harga sering dimainkan tengkulak karena petani tidak punya banyak pilihan saat panen,” ujarnya.
Ia berharap, pembangunan gudang tersebut nantinya dapat meningkatkan serapan gabah dan beras petani, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Luwu Timur.
