Notification

×

Iklan

INSPIRASI TIMUR INDONESIA

Iklan

Indeks Berita

Aiptu Andi Makkaterru, Polisi Luwu yang Dikenal Humanis dan Dekat dengan Masyarakat

الثلاثاء، 22 سبتمبر 2026 | سبتمبر 22, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-22T07:15:40Z

LUWU – Seragam kepolisian menjadi bagian dari keseharian Aiptu Andi Makkaterru selama lebih dari dua dekade mengabdi di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

Namun, bagi masyarakat yang mengenalnya, sosok anggota Unit Turjawali Satlantas Polres Luwu itu bukan sekadar polisi yang ditemui ketika mengatur lalu lintas di jalan raya.


Pria yang akrab disapa Amek tersebut dikenal sebagai sosok yang ramah, rendah hati dan mudah bergaul.


Rekan sesama polisi, jurnalis, pelajar, mahasiswa, tokoh masyarakat hingga masyarakat biasa mengenal Amek sebagai anggota polisi yang mudah diajak berkomunikasi.


Kedekatan itu tumbuh dari interaksi sehari-hari selama Amek menjalankan tugas sebagai anggota Polri.


Ia tidak hanya hadir ketika masyarakat membutuhkan pelayanan kepolisian, tetapi juga berusaha membangun komunikasi dengan berbagai kalangan.


Menggendong Lansia Saat Banjir


Salah satu momen yang menggambarkan sisi humanis Amek terjadi ketika bencana banjir melanda Kecamatan Suli, Kabupaten Luwu, beberapa tahun lalu.


Saat proses evakuasi warga berlangsung, Amek ikut turun membantu masyarakat yang terdampak.


Dalam sebuah foto yang diabadikan seorang wartawan, Amek terlihat menggendong seorang lansia untuk keluar dari lokasi yang terdampak banjir.


Foto tersebut kemudian meraih juara pertama dalam kontes foto polisi humanis yang digelar Polres Luwu.


Bagi Amek, membantu masyarakat dalam kondisi darurat merupakan bagian dari tugas seorang anggota kepolisian.


Peristiwa tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa tugas polisi tidak selalu berkaitan dengan penegakan aturan dan hukum.


Dalam situasi tertentu, polisi juga dituntut hadir untuk memberikan perlindungan dan pertolongan kepada masyarakat.


Dekat dengan Pelajar


Di bidang lalu lintas, kedekatan Amek dengan masyarakat juga terlihat ketika dirinya berhadapan dengan kalangan pelajar.


Saat bertugas di jalan, ia tidak hanya mengedepankan tindakan penertiban.


Edukasi dan pendekatan persuasif menjadi bagian dari cara Amek memberikan pemahaman kepada pelajar mengenai keselamatan berlalu lintas.


Mulai dari penggunaan helm, kelengkapan kendaraan hingga pentingnya mematuhi aturan lalu lintas menjadi hal yang kerap disampaikannya.


Pendekatan tersebut membuat interaksi antara polisi dan pelajar tidak selalu berlangsung dalam suasana tegang.


Sejumlah pelajar bahkan tetap menyapa Amek ketika bertemu di luar tugas.


“Kalau kita bisa memberikan pemahaman dengan cara yang baik, tentu akan lebih mudah diterima. Tujuan utama kita adalah keselamatan masyarakat,” ujar Amek.


Menurut dia, penindakan terhadap pelanggaran lalu lintas tetap diperlukan. Namun, pencegahan melalui edukasi juga menjadi bagian penting untuk membangun kesadaran masyarakat.


Tetap Tegas Saat Bertugas


Di balik kepribadiannya yang ramah, Amek tetap dituntut menjalankan tugas secara disiplin.


Sebagai anggota Unit Turjawali Satlantas Polres Luwu, ia menjalankan tugas pengaturan, penjagaan dan patroli lalu lintas.


Keramahan, menurutnya, bukan berarti menghilangkan ketegasan dalam menjalankan aturan.


Sebaliknya, komunikasi yang baik dapat menjadi salah satu cara agar masyarakat memahami alasan di balik setiap aturan yang diterapkan.


Sikap tersebut juga membuat Amek dikenal cukup dekat dengan kalangan jurnalis di Luwu.


Komunikasi dengan wartawan terjalin dalam berbagai kegiatan kepolisian maupun pelayanan kepada masyarakat.


26 Tahun Mengabdi di Luwu


Amek merupakan pria kelahiran Wajo tahun 1978.


Sekitar 26 tahun perjalanan pengabdiannya sebagai anggota Polri sebagian besar dijalani di Kabupaten Luwu.


Puluhan tahun bertugas membuat dirinya bertemu dengan berbagai lapisan masyarakat.


Dari pengalaman tersebut, Amek memahami bahwa hubungan antara polisi dan masyarakat tidak hanya dibangun melalui kewenangan, tetapi juga melalui komunikasi dan kepercayaan.


Di luar kedinasan, kehidupan Amek juga berjalan sederhana.


Ia merupakan ayah dari enam anak.


Kesederhanaan tersebut menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya meski telah puluhan tahun mengenakan seragam kepolisian.


Bagi Amek, menjadi anggota Polri bukan semata-mata tentang seragam atau kewenangan.


Lebih dari itu, polisi harus mampu memberikan manfaat ketika masyarakat membutuhkan kehadiran mereka.


Pesan di Hari Lalu Lintas Bhayangkara


Momentum Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-71 menjadi kesempatan bagi Amek untuk kembali mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya keselamatan di jalan.


Ia mengajak masyarakat Kabupaten Luwu untuk bersama-sama membangun budaya tertib berlalu lintas.


Menurutnya, mematuhi aturan lalu lintas bukan hanya bertujuan menghindari sanksi.


Hal yang lebih penting adalah menjaga keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya.


“Keselamatan di jalan merupakan tanggung jawab bersama,” katanya.


Peringatan Hari Lalu Lintas Bhayangkara ke-71 tahun ini mengusung tema “Satlantas Hadir Bersama Masyarakat, Mewujudkan Keselamatan Menuju Indonesia Makmur.”


Bagi Amek, tema tersebut menjadi pengingat bagi anggota Satlantas untuk terus hadir di tengah masyarakat.


Selama menjalankan tugas, ia berharap polisi tidak hanya dikenal melalui tindakan penegakan hukum, tetapi juga melalui kepedulian dan pelayanan.


Perjalanan Amek selama sekitar 26 tahun di Luwu menjadi bagian dari cerita panjang seorang polisi yang berusaha menjalankan tugasnya dengan pendekatan humanis.


Di jalan raya ia bertugas menjaga ketertiban.


Ketika bencana datang, ia ikut membantu evakuasi.


Saat bertemu pelajar, ia memberikan edukasi.


Dan di tengah masyarakat, ia berusaha hadir sebagai polisi yang dapat diajak berkomunikasi.


Bagi Amek, pengabdian seorang polisi pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana aturan ditegakkan, tetapi juga bagaimana keberadaan polisi dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق

×
Berita Terbaru Update