LUWU – Sekitar 70 hektare lahan persawahan di Loppe, Lingkungan Lumika, Kelurahan Noling, Kecamatan Bua Ponrang, Kabupaten Luwu, terancam mengalami gagal panen akibat krisis air. Kondisi tersebut mendorong para petani berharap pemerintah segera memberikan bantuan pembangunan sumur bor sebagai solusi untuk memenuhi kebutuhan irigasi.
Salah seorang petani, Ipping, mengatakan persoalan kekurangan air hampir selalu terjadi setiap musim tanam. Menurutnya, kawasan persawahan tersebut merupakan lahan sawah cetak baru yang dibangun pada Tahun Anggaran 2025, namun hingga kini belum didukung sumber air yang memadai.
"Setidaknya ada sekitar 70 hektare sawah yang tidak memiliki sumber mata air. Selama ini kebutuhan air hanya mengandalkan aliran Sungai Noling yang debitnya menurun saat musim kemarau, bahkan bisa mengering," kata Ipping, Kamis (23/7/2026).
Ia menjelaskan, saat musim kemarau para petani hanya memiliki satu pilihan, yakni memompa air dari Sungai Noling yang berjarak sekitar 800 meter dari areal persawahan. Namun, upaya tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit karena harus membangun jaringan pipa sekaligus menanggung biaya operasional pompa.
Menurut Ipping, pembangunan sumur bor menjadi solusi yang paling realistis dan efisien. Selain berada dekat akses jalan, kawasan persawahan itu juga telah memiliki jaringan listrik yang dapat dimanfaatkan untuk mengoperasikan pompa air.
"Kalau ada bantuan sumur bor tentu sangat membantu petani. Lokasinya dekat dengan jalan dan sudah ada tiang listrik, sehingga tinggal memasang pompa untuk mengairi sawah. Dengan begitu lahan tetap bisa ditanami dan petani tidak mengalami gagal panen," ujarnya.
Selain mengusulkan sumur bor, para petani juga berharap pembangunan jaringan irigasi dari Tanabolong, Desa Padang Tuju, Kecamatan Bua Ponrang, dapat diperpanjang hingga mencapai kawasan persawahan di Loppe. Menurut Ipping, saluran irigasi tersebut hanya membutuhkan tambahan sekitar empat kilometer agar dapat menjangkau lahan pertanian yang selama ini kesulitan air.
Ia mengungkapkan usulan tersebut telah disampaikan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan. Para petani kini menunggu tindak lanjut dari pemerintah agar persoalan yang berulang setiap tahun itu segera mendapatkan solusi.
Ipping berharap pemerintah tidak menunggu hingga petani mengalami gagal panen baru mengambil tindakan. Ia menegaskan, masalah kekurangan air di kawasan tersebut telah berlangsung bertahun-tahun dan terus menghantui setiap musim tanam.
"Harapan kami, kebutuhan air ini diantisipasi sejak sekarang. Jangan sampai petani sudah gagal panen baru semua menyesal. Tahun berikutnya juga jangan sampai persoalan ini kembali terabaikan. Dari dulu sampai sekarang, sawah di sini hampir tidak pernah lepas dari ancaman gagal panen karena kekurangan air," pungkasnya.
