PALOPO - Perkembangan terbaru kasus dugaan pengeroyokan terhadap imam masjid di Kota Palopo, Sulawesi Selatan, mengungkap kondisi korban yang sempat dirawat intensif selama tiga hari di rumah sakit. Korban, Ahmad (62), mengaku hingga kini masih merasakan dampak serius pascakejadian, baik secara fisik maupun psikis.
Ahmad, yang juga pernah mengajar di Pesantren Modern Datok Sulaiman Palopo Putra dan Putri, menuturkan usai insiden pemukulan, para pelaku langsung melarikan diri dari lokasi.
“Setelah pemukulan itu mereka lari semua. Saya dibonceng Pak RT langsung ke Polsek Wara dalam kondisi masih berlumuran darah,” ujar Ahmad, Selasa (5/5/2026).
Setibanya di kantor polisi, Ahmad langsung membuat laporan. Tak lama kemudian, ibu dari anak yang sebelumnya terlibat dalam insiden di masjid juga datang ke Polsek.
Namun, Ahmad mengaku tidak mengetahui secara pasti apakah perempuan tersebut turut melakukan pemukulan, meski ada saksi yang melihat keterlibatannya.
“Saya tidak tahu kalau ibu itu memukul, tapi saksi ada yang melihat,” katanya.
Menurut Ahmad, saat dimintai keterangan oleh polisi, perempuan tersebut mengaku tidak mengetahui siapa saja yang melakukan pemukulan terhadap dirinya.
“Waktu ditanya polisi siapa yang memukul, dia bilang tidak tahu. Tidak mungkin bukan keluarganya. Dari mana orang tiba-tiba datang memukul kalau tidak ada hubungan. Polisi juga bilang mustahil,” ujarnya.
Saat proses pelaporan berlangsung, kondisi Ahmad disebut masih sangat lemah. Ia bahkan sempat pingsan ketika memberikan keterangan di hadapan penyidik.
“Saya jatuh pingsan saat memberi keterangan. Anak saya ada di sebelah, juga Pak Lurah. Saya langsung dibawa ke rumah sakit,” kata Ahmad.
Ahmad kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Mega Buana yang berada di dekat Polsek Wara untuk mendapatkan penanganan awal. Selanjutnya, ia dirujuk ke Rumah Sakit Palemmai Tandi untuk keperluan visum atas permintaan penyidik.
“Dari Polsek ada surat permintaan visum, jadi kami dirujuk ke Rumah Sakit Palemmai Tandi. Waktunya juga dibatasi, harus sebelum pukul 20.00 Wita,” ujarnya.
Di rumah sakit tersebut, Ahmad menjalani perawatan selama tiga hari akibat luka yang dideritanya.
Meski telah diperbolehkan pulang, Ahmad mengaku kondisi kesehatannya belum sepenuhnya pulih. Ia masih merasakan nyeri di beberapa bagian tubuh, terutama saat bergerak.
“Kalau bergerak makin lama terasa sakit. Dada juga makin nyeri. Penglihatan saya juga makin kabur,” katanya.
Ia menduga kondisi tersebut memburuk setelah obat-obatan yang diberikan selama perawatan mulai habis.
“Waktu masih ada obat anti nyeri, tidak terlalu sakit. Sekarang sudah tidak ada, jadi terasa sekali,” ujarnya.
Terkait proses hukum, Ahmad berharap pihak kepolisian dapat menuntaskan kasus ini secara profesional. Ia juga menegaskan belum bersedia menempuh jalur damai sebelum proses hukum berjalan.
“Memang kami sempat diajak damai. Kami bukan anti perdamaian, tidak pernah menolak. Tapi kami minta dahulukan proses hukum,” kata Ahmad.
Ia menilai keberadaan para pelaku yang hingga kini masih bebas berkeliaran justru menambah beban psikologis bagi dirinya dan keluarga.
“Pelakunya masih berkeliaran, itu melukai perasaan kami. Sudah dua kali ada permintaan damai, tapi kami tolak,” ujarnya.
Hingga kini, kasus dugaan pengeroyokan terhadap imam masjid tersebut masih dalam penanganan pihak kepolisian. Aparat terus melakukan pendalaman dengan memeriksa saksi-saksi serta mengidentifikasi pihak-pihak yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.
