LUWU UTARA - Sedikitnya 40 rumah warga di Desa Lembang-lembang, Kecamatan Baebunta Selatan, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, terendam banjir pada Rabu (6/5/2026) pagi. Banjir dipicu luapan Sungai Rongkong setelah hujan deras mengguyur wilayah hulu dalam beberapa hari terakhir.
Kepala Desa Lembang-lembang, Arwis Ansar, mengatakan banjir yang terjadi di wilayahnya merupakan banjir langganan tahunan akibat luapan Sungai Rongkong. Kondisi tersebut diperparah dengan pendangkalan sungai yang membuat air lebih mudah meluap ke permukiman warga.
“Banjir ini memang sudah jadi langganan setiap tahun. Apalagi kalau hujan deras di hulu, Sungai Rongkong langsung meluap,” ujar Arwis saat dikonfirmasi, Rabu.
Ia menjelaskan, sejak akhir April 2026, banjir sudah beberapa kali terjadi. Meski sempat surut, air kembali naik ketika hujan deras kembali mengguyur wilayah hulu.
“Banjir ini sudah terjadi sejak akhir April. Sempat surut, tapi kalau hujan deras lagi di hulu, air kembali meluap,” katanya.
Menurut dia, kondisi Sungai Rongkong di sekitar desa mengalami pendangkalan yang cukup signifikan. Hal ini menyebabkan kapasitas tampung air berkurang sehingga memperparah risiko banjir.
Pada Rabu pagi, kondisi air dilaporkan sempat berangsur surut. Namun, hujan deras kembali turun sehingga warga masih harus waspada terhadap potensi banjir susulan.
“Kondisi pagi ini agak surut, tapi hujan deras lagi, jadi kami masih siaga,” ucapnya.
Akibat banjir tersebut, aktivitas warga terganggu. Sejumlah warga bahkan harus menggunakan perahu untuk beraktivitas sehari-hari, termasuk mengantar anak ke sekolah yang tengah mengikuti ujian.
“Sebagian warga pakai perahu, terutama untuk antar anak sekolah dan aktivitas lainnya,” jelas Arwis.
Selain merendam permukiman, banjir juga berdampak pada sektor pertanian. Tanaman jagung yang menjadi komoditas andalan warga turut terdampak cukup parah.
Puluhan hektare lahan jagung dilaporkan terendam, bahkan sebagian tanaman mengalami kerusakan akibat genangan air yang berlangsung cukup lama.
“Tanaman jagung warga banyak yang terendam, bahkan ada yang sudah rusak. Ini tentu merugikan petani,” katanya.
Pemerintah desa berharap adanya penanganan serius dari pihak terkait, khususnya normalisasi Sungai Rongkong guna mengatasi pendangkalan yang menjadi salah satu penyebab utama banjir berulang di wilayah tersebut.
Warga pun diimbau tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat curah hujan masih tinggi dan berpotensi menyebabkan banjir kembali meluas dalam beberapa hari ke depan.
