IKEA Bagikan 7 Tips Menata Ruang Kerja di Rumah agar Tetap Nyaman dan Produktif

TANGERANG - Tren bekerja dari rumah atau work from home (WFH) kembali menjadi perhatian setelah pemerintah menerapkan pola kerja fleksibel bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), khususnya pada hari Jumat.


Meski demikian, bagi sebagian pekerja di Indonesia, WFH bukanlah hal baru. Pola kerja ini bahkan telah menjadi bagian dari rutinitas sejak beberapa tahun terakhir, dengan berbagai penyesuaian sesuai kebutuhan masing-masing individu maupun perusahaan.


Interior Design Manager IKEA Indonesia, Melina Ardianti Hadiatmodjo, mengatakan bahwa konsep WFH saat ini berbeda dibandingkan masa pandemi. Jika sebelumnya dilakukan karena keterpaksaan, kini WFH lebih bersifat fleksibel dan perlu disesuaikan dengan kondisi rumah.


“Dulu WFH muncul karena keharusan, jadi apa pun bisa dijadikan ruang kerja dadakan. Sekarang WFH lebih seperti bonus yang datang sekali-sekali, sehingga perlu menyesuaikan ritme rumah, bukan memaksa rumah mengikuti pola kantor,” ujar Melina dalam keterangan tertulis, Kamis (1/4/2026).


Menurut dia, tantangan terbesar bekerja dari rumah bukan hanya keterbatasan ruang, tetapi juga dinamika aktivitas di dalam rumah, seperti gangguan dari anggota keluarga, aktivitas domestik, hingga kebisingan.


Melina menekankan pentingnya kenyamanan dalam jangka panjang, termasuk menghindari bekerja di tempat tidur serta memastikan posisi duduk yang ergonomis.


“Hindari bekerja di tempat tidur karena tubuh akan mudah merasa mengantuk, pastikan posisi duduk ditopang dengan baik, dan tambahkan penopang sederhana seperti bantal atau meja lipat bila diperlukan,” jelasnya.


Untuk mendukung produktivitas, IKEA Indonesia membagikan tujuh tips sederhana menata ruang kerja di rumah.


Pertama, menentukan sudut kerja yang mendukung fokus, meski tanpa ruang khusus. Area dekat jendela atau sudut ruang keluarga bisa menjadi pilihan selama memiliki pencahayaan yang cukup dan mudah dirapikan.


Kedua, membuat pembeda antara area kerja dan area santai. Pembatas sederhana seperti karpet, meja lipat, atau kebiasaan merapikan peralatan kerja dapat membantu menciptakan batas psikologis.


Ketiga, memanfaatkan pencahayaan yang tepat. Cahaya alami menjadi pilihan utama, namun lampu tambahan tetap diperlukan untuk mengurangi kelelahan mata.


Keempat, mengatur posisi duduk agar tubuh tidak cepat lelah, termasuk menggunakan bantal penyangga atau mengganti posisi kerja secara berkala.


Kelima, mengelola kebisingan dengan solusi sederhana seperti penggunaan karpet, tirai, atau headset dengan fitur peredam suara.


Keenam, menjaga kerapian meja kerja dengan hanya menempatkan barang yang diperlukan serta memanfaatkan ruang penyimpanan tambahan.


Ketujuh, membangun rutinitas kerja harian untuk membedakan waktu kerja dan waktu istirahat, seperti menyiapkan meja sebelum mulai bekerja dan merapikannya setelah selesai.


Public Relations Manager IKEA Indonesia, Ririn Basuki, mengatakan pihaknya memahami setiap rumah memiliki tantangan yang berbeda dalam mendukung aktivitas kerja.


“Kami ingin membantu masyarakat menemukan solusi yang sesuai dengan kebutuhan, agar kegiatan bekerja dari rumah bisa lebih nyaman dan seimbang,” ujarnya.


Ia menambahkan, IKEA Indonesia menyediakan berbagai inspirasi penataan ruang yang dapat diakses melalui situs resmi, aplikasi, maupun toko IKEA di seluruh Indonesia.


Dengan penataan yang tepat, rumah tidak hanya berfungsi sebagai tempat beristirahat, tetapi juga dapat menjadi ruang produktif yang mendukung berbagai aktivitas, termasuk bekerja.

أحدث أقدم