INSPIRASI TIMUR INDONESIA

 

TANA TORAJA - semangat toleransi umat beragama di Lembang Madandan, Kecamatan Rantetayo, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan  sejak dahulu hingga sekarang terus berjalan.

Lembang Madandan  adalah salah satu kampung yang penduduknya pertama memeluk Islam di Tana Toraja. 

Dalam beberapa catatan sejarah, Islam masuk di Tana Toraja pada tahun 1858 masehi. Perkembangan Agama Islam di Madandan Tana Toraja, tidak berjalan cepat seperti daerah lain di Indonesia,  hal ini disebabkan masih melekatnya faham atau aliran kepercayaan masyarakat Toraja yang disebut dengan Alluk To Dolo, namun meski berjalan lamban  nuansa kekerabatan  dan semangat toleransi antar pemeluk agama dan aliran kepercayaan berjalan seiring.

Tokoh agama di Madandan, Rahim Tambing (72) mengatakan perkembangan Islam di Madandan  Tana Toraja diawali dengan berdirinya masjid yang kini dinamakan Masjid Jami Madandan dan kemudian adanya pernikahan antara pembawa agam Islam dengan anak gadis Toraja tahun 1876.

“Tahun 1858 Islam mulai masuk di Tana Toraja yang dibawa oleh Siduppa dari Teteaji Sidrap, setelah lama menyiarkan agama Islam dan terjadi pembauran, Siduppa dinikahkan dengan anak gadis Toraja bernama Rangga tahun 1876, sebelum menikah terlebih dahulu Rangga di Islamkan, dengan demikian Rangga adalah pemeluk Islam pertama di Madandan Tana Toraja,” kata Rahim sata dikonfirmasi, Selasa (19/4/2022).

Masuknya Islam di Tana Toraja juga diawali berdirinya masjid Jami Madandan  yang didirikan pada tahun 1858 Masehi.

Dari tahun ke tahun Masjid Jami Madandan mengalami perpindahan sebanyak 5 kali yang jaraknya tidak jauh dari lokasi pertama.

“Pertama kali di lapangan Madandan dan sekarang yang kelima ini berdiri tepat berada dipinggir jalan poros Madandan – Rantetayo yang merupakan akses penghubung Kabupaten Tana Toraja Dengan Kabupaten Toraja Utara, sekaligus menjadi jalur perdagangan  sehingga masjid tersebut menjadi salah satu masjid yang kerap kali digunakan para pedagang untuk singgah salat  maupun berbuka puasa dengan jamaah setempat,” ucap Rahim.

Semangat toleransi dan moderasi beragama yang digaungkan masyarakat Lembang Madandan  terlihat jelas, bangunan Masjid Jami Madandan yang merupakan bangunan tua di Toraja dibangun atas kerja sama dan gotong royong penganut agama yang berbeda-beda dan aliran kepercayaan atau Alluk To Dolo,  posisi bangunan pun berhadapan langsung dengan gereja.

“Dalam proses pembanguna masjid di Lembang Madandan kami semua orang Madandan baku bantu, biar dari orang Nasrani dari ketua-ketua adat,  pendeta dan tokoh-tokoh masyarakat semua  membantu, begitupun sebaliknya,”  ujar Rahim.

Seperti tahun-tahun sebelumnya  setiap pelaksanaan hari besar Islam Masjid Jami Madandan yang pembangunannya dimotori oleh keluarga besar dari istri Parenge Madandan  almarhumah Rukka  selalu dihadiri oleh masyarakat pemeluk agama yang berbeda  bahkan pendeta dan pastor pun kadang hadir di masjid tersebut.

Acara buka puasa bersama misalnya yang baru saja digelar di Masjid Jami Madandan pada Minggu (17/4/2022) lalu, dihadiri oleh keturunan dan sanak kerabat dari Parenge Madandan yang beragama Kristen  bahkan menu buka puasa  terkadang disiapkan warga sekitar sehingga toleransi antar umat beragama ditempat tersebut terus terjaga.

Kerukunan antar umat beragama di Lembang Madandan merupakan cerminan kehidupan sosial kemasyarakatan yang terus terjaga dan dikagumi oleh semua pihak  atas persaudaraan yang tetap terpelihara dengan baik di Tana Toraja.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Ranteteayo, Buhari Pamilangan mengapresiasi masyarakat Madandan dan terkhusus kepada keluarga besar almarhumah Rukka yang memiliki semangat toleransi beragama yang tinggi.

"Dalam hubungan sosial kita harus saling menghargai dan saling membantu. Olehnya itu saya berharap toleransi antar umat beragama seperti di Madandan ini tetap dijaga dan dilestarikan, dan saya rasa ini dapat menjadi role model kerukunan umat beragama di Indonesia bahkan dunia," tutur Buhari.

Pihak Keluarga Parenge Madandan, Saba' Sombolinggi, mengungkapkan  kekaguman dan rasa harunya atas persaudaraan yang tetap terpelihara dengan baik di tanah kelahirannya selama bertahun-tahun.

"Sikamali', Siangga' na Siangkaran (saling merindukan, saling menghargai dan saling tolong menolong) adalah budaya kita orang Toraja, sebagai keturuan nenek Rukka kami benar-benar merasa telah menjadi keluarga dan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat muslim Madandan, walau kami keturunannya beragama Kristen namun tradisi ini senantiasa kami pertahankan karena itu adalah amanah dan wasiat dari leluhur kami," jelas Saba' Sombolinggi.


"Jika dalam tulisan/berita ini terdapat kekeliruan, mohon sampaikan saran kepada kami"

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Inspirasitimur.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Inspirasi Timur News Update", caranya klik link https://t.me/inspirasitimurdotcom, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Previous Post Next Post