PALOPO – Kawasan yang sebelumnya menjadi lokasi pembuangan sampah liar di Kelurahan Surutanga, Kecamatan Wara Timur, Kota Palopo, Sulawesi Selatan, kini berubah menjadi taman hijau sekaligus dipersiapkan sebagai kawasan kuliner.
Area sepanjang sekitar 200 meter yang dahulu dipenuhi tumpukan sampah kini ditata dengan berbagai tanaman hias dan ornamen yang dibuat dari hasil daur ulang sampah. Sejumlah pot bunga, hiasan taman, hingga dekorasi lainnya memanfaatkan barang bekas yang diolah menjadi karya kreatif oleh warga.
Lurah Surutanga, Ikhwan Yamin, mengatakan perubahan tersebut berawal dari keprihatinan pemerintah kelurahan terhadap persoalan sampah yang selama ini menjadi masalah utama di lingkungan mereka.
"Lokasi ini dulunya merupakan tempat pembuangan sampah liar. Padahal kawasan ini menjadi akses alternatif masyarakat menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan pelabuhan, sehingga kami menilai kondisinya tidak layak," kata Ikhwan.
Menurut dia, pemerintah kelurahan kemudian menggandeng kelompok Program Keluarga Harapan (PKH), pengurus RT/RW, serta masyarakat untuk menata kawasan tersebut menjadi ruang terbuka yang bermanfaat.
Sebanyak 12 kelompok PKH dilibatkan dalam program tersebut. Masing-masing kelompok bertanggung jawab merawat area taman dengan panjang antara lima hingga tujuh meter sehingga seluruh kawasan sepanjang sekitar 200 meter dapat tertata dan terpelihara.
Ikhwan mengakui tantangan terbesar dalam menjalankan program tersebut bukan pada penataan fisik, melainkan mengubah pola pikir masyarakat agar tidak lagi membuang sampah sembarangan.
"Kendala terbesar adalah mengubah mindset masyarakat. Namun melalui komunikasi yang terus dilakukan bersama RT, RW, dan warga, kesadaran masyarakat mulai tumbuh sehingga mereka ikut menjaga kebersihan lingkungan," ujarnya.
Setelah taman selesai ditata, kawasan itu mulai dimanfaatkan warga sebagai ruang publik. Pada sore hari, lokasi tersebut ramai digunakan untuk berolahraga, bersantai, hingga menjadi tempat berkumpul masyarakat.
Salah seorang warga, Yasmin Yusuf, mengaku perubahan kawasan tersebut membawa dampak positif bagi masyarakat. Menurut dia, lokasi yang dulu dipenuhi sampah dan bau tidak sedap kini berubah menjadi taman yang nyaman dikunjungi.
"Dulu warga sering membuang sampah di sini. Setelah ada program ini, dampaknya benar-benar kami rasakan. Kami bersama-sama berkreasi, menanam bunga, dan hasilnya seperti yang terlihat sekarang. Kawasan ini menjadi bagus, bersih, dan ramai," ujar Yasmin.
Ia mengatakan taman tersebut kini menjadi salah satu lokasi favorit warga untuk berolahraga pada sore hari.
"Sekarang banyak orang datang jogging karena pemandangannya sudah bagus. Sangat berbeda dengan dulu yang bau dan dipenuhi sampah," katanya.
Menurut Yasmin, masyarakat juga berencana mengembangkan kawasan itu sebagai pusat usaha mikro.
"Kami berharap ke depan bisa membuka lapak UMKM di sini untuk berjualan makanan dan minuman sehingga dapat membantu meningkatkan penghasilan keluarga," ucapnya.
Sementara itu, Pemerintah Kelurahan Surutanga juga menyiapkan kawasan tersebut sebagai sentra usaha mikro dan kuliner.
Saat ini telah berdiri sebuah warung yang dikelola Tim Penggerak PKK sebagai tahap awal pengembangan kawasan. Ke depan, lokasi tersebut diharapkan menjadi tempat pembinaan usaha rumah tangga sekaligus mendukung program ketahanan pangan masyarakat.
Ikhwan mengatakan keterbatasan anggaran tidak menjadi alasan untuk menghentikan inovasi di tingkat kelurahan.
"Walaupun saat ini ada efisiensi anggaran, kami tetap berupaya menghadirkan inovasi. Sebagai lurah, saya memiliki tanggung jawab untuk terus menata wilayah agar menjadi lebih baik," katanya.
Sementara itu, Camat Wara Timur, Andi Muhammad Asnawi Sari, menyebut keberhasilan mengubah kawasan kumuh menjadi taman merupakan hasil kolaborasi pemerintah dan masyarakat.
"Ini bukti nyata bahwa lokasi yang sebelumnya dipenuhi tumpukan sampah kini berubah menjadi kawasan yang bersih, aman, dan nyaman berkat kerja sama masyarakat, kelompok PKH, RT, RW, serta pemerintah kelurahan," ujarnya.
Menurut Asnawi, pemerintah kecamatan akan terus mendorong pengembangan kawasan tersebut agar menjadi destinasi kuliner masyarakat dengan melibatkan pelaku usaha mikro.
Ia berharap ke depan semakin banyak pedagang lokal yang berjualan di kawasan itu, mulai dari penjual pisang ijo, palubutung, nasi kuning, hingga kuliner khas lainnya sehingga taman tersebut tidak hanya menjadi ruang hijau, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian warga.
Program penataan lingkungan tersebut juga menjadi bagian dari lomba antardasawisma PKH. Dalam kegiatan itu, Wali Kota Palopo turut hadir menyerahkan penghargaan kepada para pemenang lomba taman tercantik.
Transformasi kawasan bekas tempat pembuangan sampah itu kini menjadi contoh bagaimana kolaborasi pemerintah, kelompok PKH, dan masyarakat mampu mengubah ruang kumuh menjadi ruang publik yang bersih, produktif, sekaligus berpotensi meningkatkan perekonomian warga melalui pengembangan UMKM.
