TORAJA UTARA - Setelah mereda beberapa bulan terakhir, masyarakat kembali diresahkan oleh aktifitas judi sabung ayam yang diselenggarakan di Lembang Rantebua, Kecamatan Rantebua, Toraja Utara.
Arena judi sabung ayam tersebut diduga kuat diselenggarakan oleh mantan napi judi yang pernah diringkus oleh Polda Sulawesi Selatan beberapa tahun lalu, dan di ponis 3 bulan di lapas.
Oknum tersebut sudah terkenal dikalangan pelaku judi sabung ayam, kerap di panggil Pong Intan atau Moga. Bahkan ia santer diberitakan Pong Intan ini mengaku dapat bekingan dari oknum polisi sehingga setiap arena sabung ayam yang diselenggarakannya luput dari penggerebekan atau pembubaran oleh pihak aparat kepolisian.
Hal tersebut dibuktikan dengan dibukanya arena judi sabung ayam setiap hari Minggu di Lembang Rantebua dan dihadiri oleh ratusan pelaku judi tapi anehnya pihak kepolisan tidak menyentuh arena tersebut.
Bahkan menurut pengakuan salah satu pelaku judi yang menolak disebut namanya, arena ini dibuka secara terang-terangan bahkan dipatok harga setoran setiap pasangan ayam adu turun arena, dan harganya bervariasi dari 200 hingga 500 ribu per ayam.
" Setiap pasangan ayam yang di adu itu ada tarifnya dan itu dipungut oleh penyelenggara katanya si untuk setoran ke oknum yang bekingi arena itu, dan sebagian untuk dibagi oleh penyelenggara". Ungkapnya.
Si Moga ini diduga tidak main sendiri, ada oknum tokoh masyarakat dan pemerintah setempat yang memberikan ruang atau lokasi arena untuk judi sabung ayam tersebut dengan imbalan bagi hasil.
Markus, Salah satu masyarakat yang berdomisili tidak jauh dari lokasi arena judi sabung ayam berharap ada tindakan keras dari aparat hukum terutama Polsek snggalangi maupun polres Toraja Utara.
Menurutnya hal tersebut cukup mengganggu karena bertepatan dengan hari Minggu dimana umat Kristiani melakuan ibadah, apalagi jalur menuju arena tersebut melewati beberapa gereja dan cukup mengganggu karena kebisingan ratusan kendaraan yang lalu lalang disaat jam ibadah.
" Kami sangat berharap ada tindakan dari pihak kepolisian mengingat ini sudah sangat meresahkan dan tidak menghargai hari dimana umat Kristiani melakukan ibadah, bayangkan kita sementara khusuk didalam gereja sementara mereka lalulang dengan suara motor yang bising sehingga mengganggu jalannya ibadah". Keluh Markus.
