PALU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah mencatat satu orang meninggal dunia dan ribuan rumah terdampak akibat gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, dan Kabupaten Poso.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, Asbudianto, mengatakan
gempa terjadi pada Selasa (16/6/2026) pukul 11.27 Wita dengan pusat gempa
berada di darat, sekitar 42 kilometer tenggara Palu pada kedalaman 10
kilometer.
"Hingga Rabu (17/6/2026) pukul 05.30 Wita, BMKG mencatat telah terjadi
419 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar 5,2 dan terkecil 1,3. Sebanyak
25 kali gempa susulan di antaranya dirasakan masyarakat," kata Asbudianto
saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Rabu (17/6/2026).
Menurut Asbudianto, Kabupaten Sigi menjadi wilayah yang mengalami dampak
paling besar dibanding daerah lainnya. BPBD mencatat ratusan rumah mengalami
kerusakan di sejumlah kecamatan, terutama di Kecamatan Palolo dan Nokilalaki.
“Di Kecamatan Palolo, Desa Uwe Nuni menjadi salah satu wilayah dengan
dampak terbesar, yakni 313 rumah rusak ringan yang dihuni 313 kepala keluarga
atau 1.273 jiwa,” ucapnya.
Lanjut Asbudianto, sementara di Desa Tongoa, sebanyak 41 rumah mengalami
rusak sedang dan tiga rumah rusak berat. Jembatan alternatif Tongoa-Kamarora
juga dilaporkan terputus.
Di Kecamatan Nokilalaki, Desa Kamarora A tercatat mengalami kerusakan pada
325 rumah rusak ringan, enam rumah rusak sedang, dan lima rumah rusak berat.
Sedangkan Desa Kamarora B mencatat 179 rumah rusak ringan, 28 rumah rusak
sedang, dan tujuh rumah rusak berat. Sejumlah fasilitas umum seperti sekolah,
tempat ibadah, puskesmas, kantor desa, dan jaringan air bersih juga terdampak.
“Selain kerusakan bangunan, longsor terjadi di kawasan Gunung Kamarora dan
menyebabkan terganggunya akses serta saluran air,” ujarnya.
Asbudianto mengatakan untuk di Kota Palu,
kerusakan dilaporkan terjadi pada satu rumah warga, Jembatan III Palu, gedung
Auditorium Universitas Tadulako, Gedung Serbaguna Universitas Tadulako, serta
beberapa bangunan komersial dan hotel.
Sementara itu, Kabupaten Parigi Moutong mencatat puluhan rumah dan sejumlah
rumah ibadah terdampak di beberapa kecamatan, termasuk Torue, Sausu, Balinggi,
Parigi Kota, Parigi Selatan, Tinombo, dan Parigi Barat.
Di Kabupaten Poso, kerusakan terjadi pada akses jalan di wilayah Napu dan
tiga rumah warga di Desa Tumora, Kecamatan Poso Pesisir Utara.
“BPBD juga mencatat korban jiwa dan korban luka akibat bencana tersebut.
Satu korban meninggal dunia dilaporkan berasal dari Desa Ampera, Kecamatan
Palolo, Kabupaten Sigi, yang diduga mengalami serangan jantung saat kejadian
gempa. Selain itu, puluhan warga mengalami luka ringan dan beberapa lainnya
mengalami luka berat,” tuturnya.
Di Kota Palu terdapat dua korban luka ringan. Sedangkan di Kabupaten Sigi,
korban tersebar di sejumlah desa, termasuk 21 orang luka ringan di Desa Uwe
Nuni serta masing-masing 16 orang luka ringan di Desa Kamarora A dan Kamarora
B.
"Asesmen masih terus dilakukan dan data dapat berkembang seiring
masuknya laporan dari lapangan," jelas Asbudianto.
Untuk penanganan darurat, BPBD Provinsi Sulawesi Tengah telah berkoordinasi
dengan BPBD kabupaten dan kota terdampak, TNI, serta menyalurkan logistik
kebencanaan dan tenda darurat.
Kodam XXIII/Palaka Wira juga telah mendistribusikan bantuan berupa sembilan
unit tenda, 200 velbed, dan satu unit dapur lapangan.
BPBD Sulawesi Tengah mengidentifikasi sejumlah kebutuhan mendesak yang
diperlukan masyarakat terdampak.
“Kebutuhan mendesak antara lain 10 unit tenda pengungsi, 100 unit tenda
keluarga, 1.000 lembar matras, 1.000 lembar selimut, 1.000 paket sembako, 20
unit genset berkapasitas 1.000 watt, serta 500 lampu tenaga surya,” terangnya.
Meski demikian, kondisi di wilayah terdampak dilaporkan relatif aman dan
kondusif. BPBD mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah terpengaruh
informasi yang belum terverifikasi, dan tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap
potensi gempa susulan.
