Banjir Rendam 200 Rumah di Desa Tabah Luwu, Warga Minta Sungai Poringan Dinormalisasi

LUWU – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sejak Jumat (12/6/2026) malam menyebabkan Sungai Poringan meluap dan merendam ratusan rumah warga di Desa Tabah, Kecamatan Walenrang Timur, Sabtu (13/6/2026).



Banjir dengan ketinggian air antara 50 sentimeter hingga lebih dari satu meter itu juga menggenangi areal pertanian, perkebunan, serta sejumlah ruas jalan yang menghubungkan antar dusun.


Salah seorang warga, Magel, mengaku banjir datang secara tiba-tiba sekitar pukul 09.30 Wita saat dirinya sedang berada di kebun.


"Saya ditelepon anak untuk pulang karena air sudah masuk ke rumah. Saat sampai, air sudah menggenangi rumah sehingga kami langsung mengangkat barang-barang. Namun masih banyak yang tidak sempat diselamatkan, seperti alat tidur, perlengkapan dapur, dan sebagian bahan makanan," ujar Magel.


Menurutnya, warga saat ini membutuhkan bantuan logistik karena banyak bahan makanan yang rusak akibat terendam banjir. Selain itu, sebagian warga belum dapat memasak karena rumah mereka masih tergenang.


"Kami berharap ada bantuan makanan dan pemerintah segera memperbaiki sungai agar banjir seperti ini tidak terus terjadi," katanya.


Kepala Desa Tabah, Idril Pasomba, mengatakan sedikitnya 200 rumah warga terdampak banjir. Selain itu, dua unit penggilingan gabah juga ikut terendam.


"Kondisi banjir kali ini cukup parah. Kurang lebih 200 rumah warga terendam dan dua unit penggilingan gabah tidak bisa beroperasi karena ikut terendam air," kata Idril.


Ia menjelaskan, sejumlah akses jalan desa tidak dapat dilalui akibat tingginya genangan. Jalan penghubung Dusun Pongrakka menuju Dusun Poringan terendam dengan kedalaman air mencapai 1,5 hingga 2 meter sehingga tidak bisa dilalui kendaraan.


Sementara akses warga dari Dusun Popoko juga terganggu karena tinggi genangan hampir mencapai satu meter.


Selain permukiman, banjir turut merendam sekitar 50 hektare lahan perkebunan dan pertanian yang ditanami kakao, jagung, serta ubi jalar.


Menurut Idril, penyebab utama banjir diduga akibat penyempitan dan pendangkalan Sungai Poringan yang mengurangi kapasitas aliran air saat curah hujan tinggi.


"Banjir di Desa Tabah hampir terjadi setiap tahun, bahkan bisa dua kali dalam setahun. Namun kejadian kali ini merupakan yang terparah dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.


Saat ini sebagian warga memilih mengungsi ke rumah kerabat dan tetangga yang berada di lokasi lebih tinggi. Mereka menunggu air surut sambil berharap bantuan segera datang.


Pemerintah desa bersama warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan normalisasi Sungai Poringan melalui pengerukan sedimentasi dan pelebaran badan sungai guna mencegah banjir berulang yang selama ini menjadi ancaman bagi masyarakat Desa Tabah. 

أحدث أقدم