Banjir Luwu Utara Belum Surut, Ratusan KK di Desa Beringin Jaya Masih Terdampak

LUWU UTARA – Banjir masih merendam sejumlah wilayah di Desa Beringin Jaya, Kecamatan Baebunta Selatan, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, hingga Selasa (16/6/2026).


Bencana tersebut dipicu jebolnya tanggul Sungai Rongkong yang menyebabkan air meluap dan menggenangi permukiman warga serta area perkebunan di beberapa dusun.


Kepala Desa Beringin Jaya, Aminuddin, mengatakan kondisi banjir di wilayahnya belum sepenuhnya surut. Meski sebagian kawasan di sisi timur desa mulai membaik, genangan air masih bertahan di sisi barat akibat sejumlah titik tanggul yang rusak.


“Sebagian wilayah di sisi timur sudah mulai surut, tetapi di sisi barat masih tergenang karena ada beberapa titik tanggul yang jebol. Air masih menggenangi Dusun Seruni hingga ke area perkebunan dan permukiman warga,” kata Aminuddin, Selasa.


Ia menjelaskan, perubahan alur Sungai Rongkong yang kerap terjadi saat debit air meningkat turut memperparah kondisi banjir di wilayah tersebut.


Menurutnya, tiga dusun yang masih terdampak cukup parah yakni Dusun Seruni, Dusun Cempaka, dan Dusun Melati, dengan kondisi terberat berada di Dusun Seruni.


Aminuddin merinci, sebanyak 41 kepala keluarga (KK) di Dusun Seruni masih bertahan di rumah masing-masing sambil menunggu air surut. Di Dusun Cempaka terdapat 19 KK yang belum meninggalkan rumahnya, sementara di Dusun Melati masih ada enam KK yang bertahan.


Secara keseluruhan, sekitar 100 KK masih terdampak banjir. Namun, sebagian besar warga telah mengungsi ke rumah kerabat, keluar desa, maupun ke wilayah lain di Kecamatan Malangke dan Malangke Barat.


Pemerintah daerah bersama sejumlah pihak telah menyalurkan bantuan kepada warga berupa paket sembako, perlengkapan balita, perlengkapan mandi, serta kebutuhan tidur.


Di sisi lain, upaya penanganan tanggul yang jebol mulai dilakukan. Tim dari Balai Besar Wilayah Sungai bersama personel TNI telah turun ke lokasi untuk melakukan peninjauan dan menentukan langkah perbaikan.


“Hari ini, tim dari Balai Besar Wilayah Sungai bersama personel TNI dari Kodam turun ke lokasi untuk melakukan peninjauan dan menentukan langkah penanganan lebih lanjut,” tuturnya


Sebelumnya, Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, menyatakan banjir mulai terjadi pada 14 Mei 2026. Pemerintah Kabupaten Luwu Utara kemudian menetapkan status tanggap darurat bencana dua hari setelah kejadian untuk mempercepat penanganan dan koordinasi lintas instansi.


“Setelah banjir terjadi pada 14 Mei, dua hari kemudian kami langsung menetapkan status tanggap darurat bencana. Dengan status tersebut, kami bisa memperluas koordinasi dengan seluruh stakeholder untuk melakukan penanganan dan membantu warga yang terdampak,” ujarnya.


Data pemerintah daerah menunjukkan banjir telah berdampak pada 29 desa di tujuh kecamatan dengan sekitar 3.000 kepala keluarga terdampak.


Selain merendam permukiman, bencana tersebut juga menggenangi sekitar 350 hektare lahan persawahan yang menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat.


Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Luwu Utara, Agunawan, mengatakan distribusi bantuan terus diintensifkan bersama berbagai unsur, termasuk pemerintah desa, relawan, dan PMI.


Melalui Posko Tanggap Darurat Bencana Banjir, bantuan logistik telah disalurkan ke Desa Polewali dan Desa Beringin Jaya pada 10 hingga 11 Juni 2026.


Sebanyak 173 kepala keluarga menerima bantuan berupa 865 kilogram beras, 173 paket lauk-pauk, serta perlengkapan anak dan bayi. Selain itu, PMI bersama BPBD juga menyalurkan 91 paket Family Kit kepada warga terdampak di Desa Beringin Jaya.

أحدث أقدم