JAKARTA – PT Pupuk Indonesia (Persero) genap berusia 14 tahun pada April 2026. Momentum ini dimanfaatkan perusahaan untuk menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Mengusung tema “Transform, Sustain, Empower”, peringatan hari ulang tahun kali ini mencerminkan langkah strategis perusahaan dalam menjaga pasokan pupuk domestik sekaligus memperkuat peran Indonesia di pasar global.
Tekanan terhadap rantai pasok pupuk dunia yang dipicu ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah, turut memengaruhi distribusi global. Dalam kondisi tersebut, Indonesia dinilai berada pada posisi strategis sebagai salah satu produsen urea dunia yang mampu menjaga stabilitas pasokan.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama perusahaan.
“Di tengah dinamika global, prioritas kami tetap memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi. Namun, dengan kapasitas yang ada, Indonesia juga memiliki ruang untuk berkontribusi dalam menjaga keseimbangan pasokan global,” ujar Rahmad dalam keterangan resmi, Sabtu (5/4/2026).
Ia menyebutkan, setelah kebutuhan domestik terpenuhi, terdapat potensi ekspor sekitar 1,5 hingga 2 juta ton pupuk yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung stabilitas pasar global.
Saat ini, kapasitas produksi Pupuk Indonesia mencapai 14,8 juta ton per tahun, termasuk urea sebesar 9,4 juta ton. Kapasitas tersebut menjadi modal penting dalam menjaga ketahanan pasokan di tengah tekanan global.
Rahmad menambahkan, posisi strategis tersebut merupakan hasil dari transformasi yang dijalankan perusahaan secara konsisten, mulai dari perbaikan kebijakan subsidi hingga tata kelola distribusi.
Pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang kemudian disempurnakan melalui Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025. Kebijakan ini mendorong sistem distribusi pupuk yang lebih efektif serta skema pembiayaan yang lebih adaptif.
Melalui perubahan skema subsidi dari cost plus menjadi market-based mechanism atau marked-to-market (MtM), serta dukungan pembayaran subsidi sebagian di muka, perusahaan kini memiliki fleksibilitas finansial yang lebih kuat.
“Revitalisasi menjadi kunci agar industri pupuk nasional tetap andal dan berdaya saing. Dalam lima tahun ke depan, kami menargetkan pembangunan dan revitalisasi tujuh pabrik,” kata Rahmad.
Transformasi tersebut juga berdampak pada sektor pertanian. Penyaluran pupuk bersubsidi berhasil dilakukan tepat waktu sejak 1 Januari selama dua tahun berturut-turut. Selain itu, Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi turun 20 persen pada 2025.
Kondisi tersebut turut mendorong peningkatan penyerapan pupuk subsidi sebesar 31 persen pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, Komisaris Utama Pupuk Indonesia, Sudaryono, menilai transformasi dan revitalisasi yang dilakukan telah memperkuat fondasi industri pupuk nasional.
“Dengan terganggunya pasokan global, banyak negara kini membutuhkan urea dari Indonesia. Ini menjadi peluang sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan pasokan,” ujar Sudaryono.
Di usia ke-14 ini, Pupuk Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional, sekaligus berkontribusi pada stabilitas pasokan pupuk global.
